Laman

Terima Kasih Anda Telah Berkunjung Ke Kawasan Penyair Madura

Rabu, 11 Agustus 2010

Romaiki Hafni al-Hafidz


Lahir di Batang-Batang Daya, Sumenep, Madura, 20 Agustus 1991. Menulis puisi, cerpen artikel dll. Menyelesaikan pendidikan SD-nya di SDN ! Masalembu (2002-2003). SMP-nya juga ia tuntaskan di SMP ! Masalembu (2005-2006). Setelah itu ia mengembara memburu ilmu Allah ke penjara suci PP. Annuqayah Latee pada Juni 2006. Alumnus MA 1 Annuqayah (2008-2009). Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku MA.Aktif di perpustakaan PP. Annuqayah Latee (Koord. Pengadaan Buku), menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Buletin Hijrah. Bedomisili di kompleks Bahasa Arab ‘Darul Lughah Al ‘Arabiyah’ No.02. Saat ini masih tercatat sebagai Mahasiswa STIK Annuqayah jurusan Muamalat semester 1. Penyair yang merindukan “Teduh Sejati” yang menjanjikan kebenaran haqiqi. Puisinya banyak dimuat dibeberapa media massa baik local sampai nasional. Salah satu puisi juga tercover dalam antologi “tinta kehidupan” di PP. Annuqayah

Puisi – Puisinya antara lain :


Sajadah Hati

Poin-poin perjanjian belum lama sirna dari daun telingaku
Bergetaran merekam sayup-sayup suara dari kedalaman
Masih adakah bekas terurat yang dapat kubaca
Sementara peninggalan-peninggalannya diratakan dengan tanah

Non jauh di kedalaman sana
Terdapa pulau seribu, bersit dan gerak hidup berpola-pola
Disanalah tuhan menanam bibit tingkah dan prilaku
Lalu dicocok tanam oleh hamba-hamba sahayanya

Cahaya tuhan mulai besemilir menerawang di tiap-tiap pintu nafas
Memonitoring segala yang ada dan mungkin ada

Aku dambakan
Kami impikan
Mengulurkan hati sebagai terompa perjalanan

Kini hatiku berselimut batu
Hitam pekat beraroma nanah
Jalanku gelap tak ada cahaya

Dengan sajadah hati
Kumulai segalanya dari putih
Memacu kuda secepat cahaya
Memburu alam yang tak mengenal kehancuran


April 2010


Hijrah Sang Pemimpi

Kuselami alam tak ada tepi kendali
Dimana tak kutemukan serat-serat
Batas kejumudan dalam naluri
Meninggalkan keluh kesah
Mencabik-cabik lembaran hatiku dalam

Teramat indah gubuk yang kutinggalkan dulu
Merajuk kata demi kata di bawah pohon mengkudu
Mengaduk rasa bahagia bersama langit memerah

Di dinding gubuk itu
Telah kulukiskan oretan sejarah dedaunan
Adun yang mampu merobek ranting-ranting pepohonan
Mencabut nafas berdenyutan

“ tak ada pena yang mampu menodai oretan jejakku”

Nyawa yang kau tiupkan kepadaku
Selalu menghilang dan pudar
Saat datangnya raja kegelapan
Aku berusaha meronta sekuat tenaga
Mataku gelap tak melihat sebenang cahaya

Tak ada daya
Terbawa
Tak ada naluri
Dalam mimpi

Januari 2010


Yalamlam*

Garis-garis langit wahana keabadian
Dalam torehan, pahatan sejarah
Menanti misteri pertemuan
Selembar perasaan dalam naluri

Desir-desir pasir kenikmatan
Menjamin setiap torehan danbun
Meruntuhkan tiang –tiang al-fahsya’
Di atas tumpukan mizan

O,yalalam !
Tempat peraduan jutaan anak manusia
Bermusyafir menuju pintu tuhan
Pada suatu zaman
Yang telah dituliskan
Dengan darah qadar

Pasir-pasir tersenyum
Melihat gurun-gurun terombang-ambing
Jutaan kaki-kaki anak adam
Tumbuh dari tihamah yaman
Menuju pusar bumi yang dahsyat

Di sana…
Tempat huruf-huruf yang bergejolak
Tapi percuma..!
Hanya setara dan sama yang dirasa

Kicauan angin gurun menemani
Dalam perjalanan panjang
Peraduan nasib
Di rumah perdana

*suatu daerah di Negara yaman, sebagai salah satu tempat permulaan ihram


Latee, 10-11 juni 2009


Cahaya Diantara Hutan Berkabut
-Kepada Agung Damar

Siapa yang mengira akan ada pahlawan
Dalam hutan bertemakan darah
Menyembur nanah-nanah kealiman
Dalam setiap detak sang penguasa

Mereka mendaki langit dengan ketabahan
Membekali diri dengan pengabdian
Lalu mereka berjalan dalam buritan
Memahat sejarah dengan darah perjuangan

Genting-genting bertarung dalam kancah suci
Menanti sang pemenang diantara mereka
Sementara pemegang mahkota berlihai =lihai
Menginjak pedih luka kaum bawahan
Mereatap, menangis
Sebab buta ilmu membumbuhi otak mereka

Siapakah yang berani membunuh ilmu pengetahuan pagi ini?
Atau kami gantung kepalanya detik ini..!
Izinkan kami
Beri kami waktu
Memercikkan cahaya dalam hutan
Berkabut kejahilan

24 Februari 2010


Misteri Angka-angka

Angka adalah hantu. Angka tak mau
Tampakkan wajahnya
Berjalan telungkup di pundak-pundak manusia
Menelusuri semak-semak kantor

Angka layaknya cita-cita
Mendapat fans dalam jumlah yang tidak sedikit
Jiwa berkoar memburu keagungan
Malah terperangkap di sangkar angka-angka

Angka berlarian dari kantong datang
Ke kantong pergi. meraih kenikmatan nisbi
Seribu manusia tergantung
Pada tiang-tiang berangka nol

Angka menjadi indera penglihat
Otak manusia gemetaran semu
terinfeksi oleh virus-virus hitam pekat

angka bergulir
angka berjalan
memacu yang hidup
menemani yang mati

Juni 2010

2 komentar:

Penunggu Pelangi mengatakan...

makasih ya puisi saya sudah dimuat. semoga saya bertabah semangat menelusuri dunia sastra. amien!!!

Penunggu Pelangi mengatakan...

makasih ya puisi saya sudah dimuat. semoga saya bertabah semangat menelusuri dunia sastra. amien!!!