Laman

Terima Kasih Anda Telah Berkunjung Ke Kawasan Penyair Madura

Senin, 31 Januari 2011

Moh. Nurul Kamil


Moh. Nurul Kamil, lahir di Batang-batang, Sumenep 05 Juni 1991. Alumnus TMI AL-AMIEN PRENDUAN, hingga sekarang aktif di berbagai komunitas sastra. Antara lain: Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) cabang Sumenep, Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Al-Amien dan Forum Bahasa dan Sastra Indonesia (FBSI). Periode (2009-2010), mantan ketua Sanggar Sastra Al-Amien (SSA) Prenduan ini, menjadi redaktur Majalah Qalam Suplemen Khazanah. Beberapa kali memenangkan perlombaan; Juara II Lomba Menulis Puisi Kandungan Al-Quran (PORSENI: 2008) Al-Amien Prenduan, Juara harapan III Lomba Cipta Puisi Remaja (Pusat Bahasa: 2010) dan Juara I Lomba Menulis Puisi Inspiratif (FLP UM: 2010) Malang. Karya-karyanya berupa puisi dipublikasikan di media cetak atau online seperti Radar Madura (Jawa Pos Group), Majalah Qalam Suplemen Khazanah, Buletin SASTERA, Horison/Kakilangit, Buletin SEMBAHYANG, penulis muda.com, www.mohnurulkamil.blogspot.com. Puisi-puisinya juga dimuat dalam bunga rampai: Akar Jejak (Antologi puisi penyair Al-Amien: SSA: 2010), dan ESTAFET (Ukhuah Publishing: 2010). Sedangkan kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah, Pemabuk (SSA: 2010). Untuk forum silaturrahmi di, kamil_poetra@yahoo.com atau di Websit: www.mohnurulkamil.blogspot.com

CATATAN KENANGAN

: Warda

magrib jatuh ke dada kita bagai gerimis, tapi tak menyebabkan basah.
di sini, dalam remang yang tak selesai menjalin kisah dengan kesucian bulan
kita duduk bersandingan di atas kursi tua.

dua tiga patah kata kita lepaskan menjaring doa pada setiap kelepak anak jalanan
yang berlari berputar di trotoar samping gajayana
hingga tak ada luka yang tersisa atau halaman kenangan dimabuk dilema.
sesekali kita bertukar senyuman, entah untuk apa
hanya mata-mata kita yang jujur menyampaikan suratan rahasia.

aku malu bagaimana harus melepaskan kelenjar ini,
karena aroma kenangan masih kau hirup dengan bakti sejati.

permpuanku, maka tidak salah jika
kau masih saja bertanya tentang kebenaran. ya, kebenaran hakiki
kau masih saja bertanya tentang kesendirian. ya, kesendirian abadi
karena metafora sejarah tidak mudah kita lepaskan begitu saja pada arus waktu.

membuka kembali semua catatan ini, terasa ada gema suara berbisik
bahwa kita mesti bergegas menentukan pelabuhan terakhir
sebelum malam larut diterkam waktu atau diabadikan sunyi

Madura, 3 Nopember 2010


LAGU MATAHARI RABU SIANG

betapa indah lagu matahari rabu siang,
ketika dzikir rerumputan memberi salam pada kupu-kupu yang bersandar di ranting dan batang-batang.
bunga-bunga mekar, setelah bertahun mengabadikan dirinya dalam diam.
dalam serpihan sunyi yang dalam oleh cerita kenangan
perempuanku, ada enam cerita angin muson ingin kusampaikan padamu
lewat surat rahasia atau suara muadzin serta proklamasi kemerdekaan suatu negeri
hingga perbedaan bahasa dan budaya tak menjadi persoalan nyata
seperti petani dengan penyanyi, penyair dengan pejudi

sesaat sebelum lagu selesai kunyanyikan, sebelum sempurna menjadi sulaiman
bernyanyi dengan burung bercinta dengan rumputan.
ada bisik kecil angin sakal dari timur membawa kabar rindu kampung halaman.
percakapan indah, tembang sederhana serta agama sempurna
ketika kertas-kertas rahasia melipat dirinya dalam asmara kasih yang dalam,
atau mimpiku kunang-kunang mengecup keningmu dalam sembahyang.
perempuanku, dalam koridor petani padi, tembakau dan kembang seruni
kau selalu ada di sisi. menatap cemas gemericik mata air langit yang tumpah di ranting.
dengan bayangan ikhlas tanpa harap balas, segala yang kuucap kaucecap dalam senyum tuntas.
bagiku mungkin ini sebuah mukjizat atau ilham atau hidayah.
ke mana mesti kutunjuk arah, mencatat persoalan sejarah.
tentang negeri luka dan bangsa berairmata.
karena pancasila hanya menjadi ideologi dusta para pecinta kedamaian
karena cinta menjadi gombal dalam kacamata pemimpi kebahagiaan.
atau tentang takdir yang tak bisa diterjemahkan dalam bahasa lisan.

kebodohan mungkin sesuatu yang bijaksana dalam menentukan takdir
ketika malam-malam lewat di mataku tanpa gemerlap bintang-gemintang
gelap bersandar pada dinding hati yang suram.
aku menatap ke langit kemudian ke hutan. mengingat wajahmu kesekian kali, menghafal namamu hingga tak ada bimbang.
tapi kebodohan terlalu bijaksana menentukan takdir
lukisan kaligrafi di hati terpaksa harus terlukai
kita harus kembali pada fitrah matahari pagi hari
saat petani berkenalan dengan pelangi, saat penyair belajar menulis puisi.
ada sesuatu yang tak bisa kita pahami, berupa baiat ataupun sepi dalam kalimat.

matahari rabu siang adalah sekumpul persoalan masalalu yang terbuka
pintu-pintu tersingkap bijaksana, di dalamnya sekumpulan laron berterbangan nisbi menembangkan lagu sepi kesekian kali
aku menatap ke seluruh penjuru mata angin, mencoba berpaling dari bayang-bayang yang menari dalam cermin
luka kembali bersimbah darah, isyarat nurani dengan pasrah
serupa palestina dan afganistan, peluru-peluru terkapar menancapkan permintaan
lalu aku dibawa ke sebuah ruangan gelap, yang tak mampu kuhitung berapa banyak kursinya. sebuah bioskop, gudang atau sesuatu lain yang tak kuketahui.
di sini rekaman sejarah diputar kembali, dengan ketidakmengertian atau kepasrahan
karena akan ada tetes airmata berjatuhan. dengan tergesa kuambil sapu tangan biru harum parfummu yang dulu.
dan percakapan tak selesai suatu malam, ketika bahasa manis kita rasakan
berlari di ladang mengejar capung-capung terbang
bila lelah kita tersungkur di sebuah tepi bawah kelapa rindang.
bagai layang-layang kita banggakan saat menari ragu bersama kelepak angin di langit menembus awan tebal.
kita saling bersalaman dan sesekali berpelukan bagai seniman melepaskan kasihnya pada istri tercinta.
kisah yang tak ingin kusaksikan lagi, karena luka akan meneteskan darah hingga rindu penghabisan

perempuanku, jalan menikung di seberang kampung. tempat anak-anak menikah di bawah umur dan balada percintaan burung yang terhempas,
termangu dalam dekapan sunyi yang agung. pernah rasanya kita mencatat elegi indah pada pokok cemara,
tentang rindu yang menyatu, tentang keindahan kekupu menebar senyum haru.
tapi perputaran sejarah tak pernah lelah melepaskan segala berita pada masalalu.
hingga cerita cinta telah habis episode. sesaat setelah orang-orang ramai di jalanan mempertimbangkan keadilan serta kemanusiaan yang ditelanjangi. sesaat setelah para demonstran memperjuangkan hak asasi. dengan harga diri di tangan kanan, iri benci di kiri. sesaat setelah aku termangu, menatapmu tumbuh mekar bukan di pelataran rumahku.
mungkin inilah percakapan tak selesai suatu malam, ketika bahasa manis dirasakan. tak ingin kusapa kembali ketika malam datang menatapku rindang.

maka kubiarkan rindu menafsirkan lagu matahari rabu siang, dalam kata atau sepasang mata yang luka.

Juni 2010


LEDAKAN PANGGUNG

sudah kukatakan padamu
aku bukan penyair,
bukan penyanyi,
bukan penari.

hingga untuk baca puisi yang kutulis aku lupa larik
salah tafsir, hilang rima dalam deklamasi

hingga untuk bernyanyi aku bosan irama
lugu bahasa, ragu dalam suara.

hingga untuk menari aku gagap gerak,
lupa putaran, bingung loncatan.

tapi mengapa masih kau beri aku
ledakan panggung malam pertama?

Pacenan, 2010

SEPATAH KATA

: Warda

sepatah kata sebelum gerimis tiba di penghujung senja hari ini,
simpanlah di saku bajumu
bisa kau baca kapan saja kau mau
ketika di matamu aku sungkan mengetuk pintu.

karena kesendirian tak bisa mengubah keadaan
menjadi seberkas pernyataan rindu yang terpendam.
karena kesepian sudah melepasku dalam dilema musim
sepanjang waktu.
karena kesunyian salah menafsirkan keinginan dan hasratku yang dalam.

sepatah kata sebelum kedalaman rinduku sempurna,
pecah menjadi kalam bayang-bayang
bisikkanlah pada setiap desis doamu yang tulus
ikhlas penuh harap cemas kesekian.
karena penantian berkepanjangan di altar tak berpintu
sudah cukup mengenalkanku dengan kecutnya pertanyaan.
karena darimu aku ingin sesuatu lain
selain bisikan kecil dengan bayang-bayang yang berhenti mengucap
takbir dan tarhim.

”sempatkan aku bertamu di berandamu sebelum senja benar-benar pilu
meninggalkan sisa sepi di penghujung hari”

Al-Amien, 24 September 2010

NEGERI HIJAU

: Warda

kubayangkan kau duduk disini,
menceritakan keindahan kota yang kau jumpai di masalalu
kota jiwa penuh kenangan-kenangan beludru
tempat dimana kau melepaskan lelah sebelum akhirnya menyerah
tempat dimana kau bernyanyi menyambut musim bunga berguguran

aku mungkin salah karena takut arah matamu kembali berhijrah
ketakutan yang melebihi lepasnya matahari kali ini
aku mungkin salah karena takut semboyan yang kutitipkan
di ramadhan ini kau buang seketika atau kau kembalikan padaku
dengan sepatah kata airmata.
lebih dari sekedar takutnya penyair kehilangan kata dalam karya.

lalu aku ingin bernyanyi dalam kesendirian,
meski tak ada hujan atau angin yang menabuh gendang
meski hanya bayang-bayang mengintip di balik jedela
sambil berbisik nisbi membawa kabarmu yang malu diungkapkan.
sebuah tembang kenangan episode hari silam
penuh pertanyaan-pertanyaan di tembok hitam
negri hijau tempat kita bertemu saling mengungkap rahasia.

Al-Amien, 26 September 2010

M. Maniro AF


M. Maniro AF bernama asli “MOH JUNAIDI” lahir di Sumenep pada tanggal 12 Agustus 1994 (New Brouk City “Pasongsongan”). Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Annajah Pasongsongan. Pada tahun 2007 melanjutkan studinya di MTs 1 Annuqayah Putra, sekaligus merubah predikat dirinya menjadi seorang santri, santri PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep tepatnya di daerah Latee. Dan saat ini dia masih tercatat sebagai siswa MA. Tahfidh Annuqayah angkatan 2010. Aktif di Teater SaKsI Annuqayah, Teater Sarung MA. Tahfidh Annuqayah, komunitas RuBah (Ruang Bahasa)dan Gubuk Sastra Kita (GSK) MA. Tahfidh Annuqayah. E-mail : maniro_af@yahoo.com . maniro.af@gmail.com


ZIARAHKU DALAM SUJUD

Kurasakan dingin
menebas ke seluruh ruang do’aku
sepasang khayal,
terlintas merabahkan usapan bergelora
aku bungkam,
tercekam dalam titik tengah-tengah takdir

Sesekali ruang pikiranku kelam
terhampar dalam tabir-tabir sujudku
aku musnah. nada-nada dzikir mulai menghujani luas hamparan pijakku
lantaran di antara pekik rintihku,
kerikil-kerikil dosa mengapung pada goresan sabda

Sekarang dengan bisikan takbir aku mencoba
merenungi alunan silam masa usiaku yang hampa
tersedu akan selah-selah rinai jiwa
sedangkan aku tahu aliran masa sudah jauh
menghilang dalam pelukan sejarah
akankah aku pasrah,
sepasrah Muhammad dalam sujudnya
yang setiap kali dalam gema sujudnya lantunan tasbih terukir indah
pada puing-puing firdaus.

12 2010

HANYA TINGGAL SKETSA LAZUARI
: Vicka Camelin

Seperti jejakmu
lahir,
dentingan hasrat tanpa wajah
mencengkram di setiap dimensi pelaminan
di mana waktu berlalu tanpa keguguran

Kau terpuruk
pada tebing-tebing persaksian abadi
memecahkan sunyi
dalam gulatan pecahan partikel asmara
yang kadang mengajakmu bergurau
melampaui dermaga keresahan
hingga kini kau diam
tak terkata.
membelenggu dalam ayunan sketsa lazuari
dan mencari yang tak perlu dicari
mungkin, pikirmu hanya derit daunan
padahal. gerimis pun ikut merahasiakannya

12 2010


KABAR KEMATIAN IBUMU
-Safitri

Kabar itu,
mencekam
di setiap sudut.asap putih layu
melambai-lambai
menyapa embun gersang
di setiap deru nafasmu

Keranda putih
sudah menghampar
di ambang pintu
sekejap asamu bercerai
terpatri dalam gemuruh angin dupa.
gelap mewarnai hitungan debu
kala ibumu pulang
entah kemana
Seruan manis tak terdengar lagi
hanya membius
dalam lengkungan tanah

Sudahlah, jangan kau rubah harimu
pada gemersik malam-malam
satukan lagi asamu
lukislah harinya di sana dengan indah dalam lintas do’amu

12 2010

SABDA KERTAS PUTIH

Satu tahun silam. kertas putih
berbingakai sutera
menelanku pada setiap risau burung malam
dia datang tanpa aku minta

Kertas putih berbingakai sutera
tertulis pada bulan september 2009
melelehkan sabda-sabda kasih sayang para pecinta
seperti halnya laila dan majnun

Sekarang di perantauan
arus nadiku, terasa sunyi, gersang
dalam hitungan waktu
menunggu hujan reda

Imajiku pupus
haruskah pada buih rerumputan yang menari-nari. aku titipkan
khikayat sepiku

Atau nantinya mereka tidak mau
aku takut, aku tergoncang
resahku berbaris pada setiap haluan

Atau mungkin akan aku simpan saja
dalam gelembung-gelembung ludah para penyair tempo dulu
yang setiap sajaknya mengandung gema dalam persaksian zaman.

Warnet, 12 2010

SAJAK UNTUK IBU

Setiap fenomena yang mewaktu
risalah kita, menembus cakrawala
tidak ada musim silam terluka
berlalu tanpa arah
tetapi, dengan jiwa yang tenang
aku masih ingin duduk di ranjang tuamu
mendengarkan dongeng-dongeng tak berkesudahan
dan pada akhirnya, jika aku mati
aku masih belum kenyang disisir oleh cintamu
maka betapa besar sesal abadiku nanti

Latee, 20 12 2010

SHALAT DI PANGKUAN-MU

Bismillahirrahmanirrahiem
Allahuakbar,
kumulai takbir
bergemuruh talbiah kebesaranmu
mengecup
puing-puing sendi
di seberang trotoar
fatihahku

Allahuakbar,
menunduk dalam ruku’
seakan aku patuh
seperti tunduk
ruku’ku

Allahu akbar
ku larut dalam i’tidal;
berdiri tegak. semisal alif-mu
pada tebing-tebing kebesaran-mu

Allahu akbar,
dua perkara sujudku
basah di atas sajadah keheningan
risau riuh angin berlalu mengiringi jelmaan tasbih-mu
aku tak kuasa menghitung
debu hitam
di padang gersang hidupku. sedu melelahkan semua yang ada

Sebelum salam pun
terasa rentetan butir dan biji –biji do’a
mengalung pada ruangku yang sesak
ku lafadzkan, semua yang bisa ku lafadzkan
ku dzikirkan, semua yang bisa kudzikirkan
ku serukan, semua yang bisa kuserukan
hingga aku lelah dan pecah
tanpa terlukis bayanganku

Dan akhirnya
ku akhiri sahlatku
di pangkuan-Mu. dengan dua lembar halaman salam

Warnet, 23 12 2010 (Revisi)

TIGA AYAT UNTUK IBU

Ayat satu :
Ibu adalah dunia
sebelum kita melihat dunia

Ingatkah,
dulu kita pernah membaca berbaris-baris puisi
di ruang rahim ibu

Ayat dua :
Ibu adalah bias senyum mentari
yang berhasil menerjemah harfiah kehidupan
petang maupun terang,
ia sinari dengan tangan gerhana kasih sayang

Petuah dan dongeng
yang selalu lahir dari lengkungan bibirnya
pernahkah kita memahaminya

Ayat tiga :
Ibu adalah kasidah rindu
yang selalu bergema
dan menyelusup pada setiap ingatan

Hingga kini dia tetap menyatu
pada setiap jiwa
yang tak pernah kosong dengan bermacam rasa air susunya
yang dituangkan lewat dekapan
namun dengan manja dan nakalnya saja


PP.Annuqayah Latee, 26-27 12 2010

Jumat, 05 November 2010

Badrul Munir Chair


Badrul Munir Chair, lebih dikenal dengan nama pena Munajat Sunyi, Lahir di pesisir Ambunten (sebuah desa di pantai utara Sumenep-Madura), 1 Oktober 1990. Menulis cerpen dan puisi, karya-karyanya masuk dalam sejumlah Antologi bersama, diantaranya antologi cerpen Di Pematang Pandanaran (Matapena, 2009), Bukan Perempuan (Grafindo-Obsesi, 2010), dan beberapa antologi puisi, seperti Diorama (Antologi Penyair Tanpa Bilangan Kota) (Pondok Mas, 2009), Antologi Puisi Penyair Nusantara Musibah Gempa Padang (E Sastera, Kuala Lumpur 2010 ), kumpulan cerpen duetnya (bersama seorang teman) yang sudah terbit berjudul Bangkai dan Cerita-cerita Kepulangan (FUY, 2009). Kini aktif bergiat di Masyarakat Bawah Pohon. Bisa dikunjungi di blognya: badrulmunirchair.blogspot.com.

Madura, Laut Dimana-mana

Madura, laut dimana-mana
ombak dan angin
rindu jadi gulana

di rumahku ada laut, hamparan pasir
serpihan kerikil, tripang dan kerang dari palung
seperti kepergianku semenjak kecil
pengembaraan tak ada ujung

halaman rumahku adalah laut
pohon nyiur, lambai daun yang gugur
buih-buih kenangan
menjelma badai dalam ingatan

di dadaku ada laut
tempatku mandi dan bersuci dari segala ihwal
kotoran-kotoran menepi
segala dengki padamlah
setiap kelahiran, pulanglah

Madura, laut dimana-mana
segala air adalah air mata
menetes hingga cakrawala
di ujung laut
segala rindu akan bermuara

Madura, laut
dimana
mana

(Juni 2010)


Kampung Lebak, Pantai Utara


Semerbak aroma kampung Lebak
tiba-tiba saja menyapa pagiku di Yogyakarta

suara ombak pantai utara, ayunan pohon siwalan, karang-karang, hamparan pasir, kotoran-kotoran manusia, sampah yang menepi, sengat aroma terasi. Mengapa begitu jelas sekali?

rumah-rumah kecil di sepanjang pesisir, beratapkan langit, cahaya purnama. Gunung pasir, tempat aku bermain , perlahan hilang ditangan para penambang yang tak panjang pikir.

kadang laut bergemuruh
para nelayan menghapus peluh

selamat pagi, kampung halaman!
kampung Lebak, pantai utara

kuingat menara masjid tempat matahari terbit, muara sungai, perbatasan desa-desa, sempat ku mengadu layang-layang, mengejar hingga seberang sungai, waktu kecil dulu.

telah kuhirup semerbak aroma kampung Lebak
sejauh mana cita-cita telah kujelajahi?
tak jarang, ingatan pada tanah kelahiran, memapah rindu jadi abu

(Yogyakarta, Juni 2010)

Perihal Abu yang Turun di Kotamu

yang tak sampai padamu, kekasih. adalah air laut
biru rindu, dan buih-buih masa lalu. mengombak
menenggelamkan sajakku.

kau datang dengan kecemasan seperti Merapi
mengirimkan lahar. bara cintamu
pada hatiku yang subur.
lalu kau hapus namanya dengan hujan abu
yang kerap turun di kotamu
aku pernah hidup sebelum kau datang
dan aku pernah mati di hatiku sendiri
tetapi kau, dengan lantang menamainya kenangan
mengutuknya menjadi letusan-letusan

maka di bibirmu aku mengungsi, lalu terkunci

selanjutnya. yang kerap datang, adalah ketakutan
ketakutan akan bencana
sebab kita tak pernah melakukan persiapan
tak ada hujan yang akan memayungi kita
tak ada air laut, tempat kita membasuh luka

lalu, hanya abu yang tersisa
sisa pembakaran setelah doa doa kita
abu abu yang akan mengasinkan sajakku.

(Yogyakarta, November 2010)


Jika Sudah Sampai Padamu, November

jika sudah sampai padamu november
kenanglah hujan tahun lalu. hujan dari matamu, kekasih
tentang asin perpisahan. lagu sendu yang mengantarkan perjalanan.
"aku akan menyeberang," katamu
lalu datang cemas yang paling rintik. mengetuk kaca
"selamat tinggal."

November adalah bulan hujan. bulan ketika Tuhan mentitahkan perpisahan
pada Adam dan Hawa. di surga itu mereka terpisah, di surga itu kita akan bertemu.

jika sudah sampai padamu hujan yang asing
tutuplah jendela. tak perlu kau menatap ke atas genting
yang berbaris mengulurkan tangan, selamat jalan.
semoga akan datang padamu, november yang lain.

(Yogyakarta, 2010)

Minggu, 31 Oktober 2010

Moh. Ghufron Cholid



Lahir di Bangkalan 07 Januari 1986 Putra KH. Cholid Mawardi dan Nyai Hj. Munawwaroh seorang Guru Bahasa dan Sastra Indonesia, seorang Pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), seorang Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Yayasan Al-Amien Prenduan. Antologi Puisi Mengasah Alief (2007,bersama 10 Penyair Angkatan 31), Antologi Puisi Yaasin (Balai Bahasa Jatim,2007 bersama penyair pesantren se Jawa Timur) Antologi Puisi Toples (2009, bersama beberapa Mahasiswa Jogjakarta) Antologi Puisi Akar Jejak (2010,bersama 50 Penyair Al-Amien), Kumpulan Puisi Heart Weather (ebook pertama 2010 di scribd.com dan ebook kedua,2010 di evolitera.co.id), Kumpulan Puisi Dari Huruf Hingga I'tikaf (ebook di evolitera.co.id, 2010), Antologi Puisi Menuju Pelabuhan (ebook di evolitera.co.id) karya-karya lainnya bisa dibaca di pelangitanahjauhari.blogspot.com/mohghufroncholid.blogspot.com alamat email putra_blega@yahoo.com/lora_blega@yahoo.com CP 087852121488


MATA HIKMAH
: Mbah Marijan

Tanah semakin perih
Sujudmu gairah
Dalam mata hikmah

Kamar Hati,2010


SHALAT

Kau dan aku
Hilang batas rahasia

Kamar Hati,2008


ENAM ANAK MATAHARI PELANGI TANAH JAUHARI

Pelangi tanah jauhari
Memberangkatkan enam anak matahari
Memetik bintang gemintang di langit sumekar riang

Pelangi tanah jauhari
Memberangkatkan enam anak matahari
Melukis bunga salam di kanvas temu para bintang sepanjang ruang kerontang

Kamar Hati,2010

Rabu, 11 Agustus 2010

Romaiki Hafni al-Hafidz


Lahir di Batang-Batang Daya, Sumenep, Madura, 20 Agustus 1991. Menulis puisi, cerpen artikel dll. Menyelesaikan pendidikan SD-nya di SDN ! Masalembu (2002-2003). SMP-nya juga ia tuntaskan di SMP ! Masalembu (2005-2006). Setelah itu ia mengembara memburu ilmu Allah ke penjara suci PP. Annuqayah Latee pada Juni 2006. Alumnus MA 1 Annuqayah (2008-2009). Mulai belajar menulis sejak duduk di bangku MA.Aktif di perpustakaan PP. Annuqayah Latee (Koord. Pengadaan Buku), menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Buletin Hijrah. Bedomisili di kompleks Bahasa Arab ‘Darul Lughah Al ‘Arabiyah’ No.02. Saat ini masih tercatat sebagai Mahasiswa STIK Annuqayah jurusan Muamalat semester 1. Penyair yang merindukan “Teduh Sejati” yang menjanjikan kebenaran haqiqi. Puisinya banyak dimuat dibeberapa media massa baik local sampai nasional. Salah satu puisi juga tercover dalam antologi “tinta kehidupan” di PP. Annuqayah

Puisi – Puisinya antara lain :


Sajadah Hati

Poin-poin perjanjian belum lama sirna dari daun telingaku
Bergetaran merekam sayup-sayup suara dari kedalaman
Masih adakah bekas terurat yang dapat kubaca
Sementara peninggalan-peninggalannya diratakan dengan tanah

Non jauh di kedalaman sana
Terdapa pulau seribu, bersit dan gerak hidup berpola-pola
Disanalah tuhan menanam bibit tingkah dan prilaku
Lalu dicocok tanam oleh hamba-hamba sahayanya

Cahaya tuhan mulai besemilir menerawang di tiap-tiap pintu nafas
Memonitoring segala yang ada dan mungkin ada

Aku dambakan
Kami impikan
Mengulurkan hati sebagai terompa perjalanan

Kini hatiku berselimut batu
Hitam pekat beraroma nanah
Jalanku gelap tak ada cahaya

Dengan sajadah hati
Kumulai segalanya dari putih
Memacu kuda secepat cahaya
Memburu alam yang tak mengenal kehancuran


April 2010


Hijrah Sang Pemimpi

Kuselami alam tak ada tepi kendali
Dimana tak kutemukan serat-serat
Batas kejumudan dalam naluri
Meninggalkan keluh kesah
Mencabik-cabik lembaran hatiku dalam

Teramat indah gubuk yang kutinggalkan dulu
Merajuk kata demi kata di bawah pohon mengkudu
Mengaduk rasa bahagia bersama langit memerah

Di dinding gubuk itu
Telah kulukiskan oretan sejarah dedaunan
Adun yang mampu merobek ranting-ranting pepohonan
Mencabut nafas berdenyutan

“ tak ada pena yang mampu menodai oretan jejakku”

Nyawa yang kau tiupkan kepadaku
Selalu menghilang dan pudar
Saat datangnya raja kegelapan
Aku berusaha meronta sekuat tenaga
Mataku gelap tak melihat sebenang cahaya

Tak ada daya
Terbawa
Tak ada naluri
Dalam mimpi

Januari 2010


Yalamlam*

Garis-garis langit wahana keabadian
Dalam torehan, pahatan sejarah
Menanti misteri pertemuan
Selembar perasaan dalam naluri

Desir-desir pasir kenikmatan
Menjamin setiap torehan danbun
Meruntuhkan tiang –tiang al-fahsya’
Di atas tumpukan mizan

O,yalalam !
Tempat peraduan jutaan anak manusia
Bermusyafir menuju pintu tuhan
Pada suatu zaman
Yang telah dituliskan
Dengan darah qadar

Pasir-pasir tersenyum
Melihat gurun-gurun terombang-ambing
Jutaan kaki-kaki anak adam
Tumbuh dari tihamah yaman
Menuju pusar bumi yang dahsyat

Di sana…
Tempat huruf-huruf yang bergejolak
Tapi percuma..!
Hanya setara dan sama yang dirasa

Kicauan angin gurun menemani
Dalam perjalanan panjang
Peraduan nasib
Di rumah perdana

*suatu daerah di Negara yaman, sebagai salah satu tempat permulaan ihram


Latee, 10-11 juni 2009


Cahaya Diantara Hutan Berkabut
-Kepada Agung Damar

Siapa yang mengira akan ada pahlawan
Dalam hutan bertemakan darah
Menyembur nanah-nanah kealiman
Dalam setiap detak sang penguasa

Mereka mendaki langit dengan ketabahan
Membekali diri dengan pengabdian
Lalu mereka berjalan dalam buritan
Memahat sejarah dengan darah perjuangan

Genting-genting bertarung dalam kancah suci
Menanti sang pemenang diantara mereka
Sementara pemegang mahkota berlihai =lihai
Menginjak pedih luka kaum bawahan
Mereatap, menangis
Sebab buta ilmu membumbuhi otak mereka

Siapakah yang berani membunuh ilmu pengetahuan pagi ini?
Atau kami gantung kepalanya detik ini..!
Izinkan kami
Beri kami waktu
Memercikkan cahaya dalam hutan
Berkabut kejahilan

24 Februari 2010


Misteri Angka-angka

Angka adalah hantu. Angka tak mau
Tampakkan wajahnya
Berjalan telungkup di pundak-pundak manusia
Menelusuri semak-semak kantor

Angka layaknya cita-cita
Mendapat fans dalam jumlah yang tidak sedikit
Jiwa berkoar memburu keagungan
Malah terperangkap di sangkar angka-angka

Angka berlarian dari kantong datang
Ke kantong pergi. meraih kenikmatan nisbi
Seribu manusia tergantung
Pada tiang-tiang berangka nol

Angka menjadi indera penglihat
Otak manusia gemetaran semu
terinfeksi oleh virus-virus hitam pekat

angka bergulir
angka berjalan
memacu yang hidup
menemani yang mati

Juni 2010

Jumat, 07 Mei 2010

F. Rizal Alief


Penulis lahir di Pangabesen Sumenep Madura 15 Nopember 1987, alumnus PP. al-Huda dan MA NASA Gap-Tim, kini sedang mempersiapkan tugas akhir studinya di jur. Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tulisannya berupa cerpen dan puisi telah terbit di berbagai media massa nasional maupun lokal, juga terkumpul dalam antologi bersama “Rendezvouz di Tepi Serayu” Grafindo Yogyakarta 2009, “Bukan Perempuan” Grafindo Yogyakarta 2010, serta dalam “Narasi Batang Rindu” Sakera Pangabesen 2010.

HP; 091835151187

Rek. 0112525568 BNI Cab. UGM Yogyakarta a/n Faidi Rizal


Semerbak Garam
---D. Zawawi Imron/

mungkin langit telah kautaburi garam yang diperas dari sajaksajakmu
tanah gersang sudah kau cabikcabik dengan celurit emasmu

kautak akan menyangka ada jerit lantang menggema di atas langit,
mimpimimpi yang tertimbun ombak, telah mampu mengutuk matahari
di langit kemarau menjadi sebongkah batu langit
dan menghafal mantramantra tua warisan nenekmoyang
untuk memecah rembulan dalam semalam

maka tak perlu heran, bila malam telah kehilangan bintanggemintang
siangnya tiada matahari dan kemarau
sebab asin garam dan tajam celuritmu telah menimbulkan luka
yang perih dalam dada anakcucumu sendiri

ya. luka yang amat perih dan tak mungkin kau sembuhkan

Yogya, 2010


Riak Kecemburuan

seperti angin yang tak mungkin merubah warna dalam matamu
dalam matamu akupun mulai menghafal mantra rindu untuk merajut
kembali retak doa yang sempat tersesat di atas langit teramat hijau itu

kosongkan dadamu bila kecemburuan itu tetap membusung
karena lukaku terlampai perih
dan mungkin hanya bisa disembuhkan dengan getar detak jantungmu

ya. kosongkan dadamu, kekasih
langit mulai berubah warna dari merah kental menjadi putih seperti
tulangmu. sedikit hijau seperti sajaksajak yang hadir dalam mimpiku

atau kau tusuk saja dadaku dengan runcing kecemburuanmu, kekasih
dan kita bisa bersenggama dalam kesunyian seperti keabadian dalam
surga

Yogya, 2010


Pada Mimpi yang Luka

kemarin keyakinanku telah sempat memecahkan cahaya bulan yang
pernah singgah dalam mataku ketika memar luka bersimbah darah

kemudian angin senja bekas nafas busuk pertapa ingusan
tibatiba melerai masalaluku dengan potongan malam yang sunyi
hingga akupun menjadi pengantin paling sunyi di dunia ini
meski hanya dalam goa yang berbau dupatapapanjang dan seribu
kembang

o, entah kenapa bulan itu menjadi purnama di atas reranting
sambil bersiul dan mataku seolah binar bercumbu dalam asmara

tidak!

Yogya, 2010


Rumah Retak

hujan kemarin masih singgah dalam rumahku membasahi kitabkitab
yang tak sepenuhnya selesai kuterjemahkan menurut arti kegilaanku
harkatharkatnya kabur dan satu hrufpun masih tergenang air
sedang tubuhku terus menggigil kedinginan

hujan kemarin telah meratakan mimpimimpiku yang tersimpan
rapi dalam almari
dan mataku hanya bisa menyaksikan tetes air
yang terus gusar menusuk anganku yang sempat tegak serupa alif

rumahpun retak ketika aku semakin gila mengutuknya menjadi
kalimat sunyi dalam sajakku yang sunyi
sialnya, hujan itu
seperti tak akan pernah usai untuk terus mengguyur rumahku
selama aku tak berhenti mengutuk

Yogya, 2010


Gelisah Sunyi

bahkan pada kebisuan terdalam dari sisa sunyi yang kumiliki
kecemburuanmu tetap meretakkan dadaku yang kosong
kautelanjang dan menari dalam singkap mataku yang sepi
maka akupun takkan berhenti disini dalam sajaksajakku yang terpatri

Yogya, 2010
Episode Sunyi

tentang kesendirianku di ujung malam dan dingin yang terlampau
gigil itu
bulan bertandang gelisah di dalam matamu yang sepi
hijrah ke semaksemak belukar dalam sajaksajakku
lantas kesunyian menancap gelap dan luka yang tertimbun mimpi

tentang keberadaanmu dalam lukaluka perihku di musim hujan
sajak terakhir yang belum rampung kutulis
harus kuhafal sendiri dalam kesunyian
sambil menunggu kecemburuan paling besar dan kesakitan paling
dahsyat sepanjang malam

ya. tentang ki-ta
yang hanya mengharap satu kata saja untuk sempurna

Yogya, 2010


Rindu Penyair

bagiamana bisa aku menemuimu dalam kesunyian—katanya di selasela
hujan waktu pagi dan tak selesai sampai malam hari di matanya

segumpalkalimat mencair seperti air dalam duduksuntuknya setiap saat
melawan gemuruh yang menggulung gundah di atas awang
hingga tubuh penyair itu terpelanting tanpa gerak memenuhi luas
mimpinya yang berantakan (katakata bertebaran tanpa arti melebihi
kesakitan yang perih)

aku tak ingin kedatanganmu, sayang. aku hanya butuh lukamu untuk
mengamuk penantianku yang panjang—kata seorang perempuan
yang terus membuka gaunnya sampai telanjang memasuki hujan
yang bercak katakata

lambat laun.
kalau begitu untuk apa aku tetap disini. lebih baik aku lenyap saja
dalam katakataku sendiri hingga aku menemukanmu dalam
ketiadaanku

Yogya, 2010


Pantai Sunyi

melepaskanmu serupa membuang satu jarum di tengah samudera
bagaimana mungkin gelombang dahsyat dapat kutaklukkan

tangan ini hanya pandai merangkai sajak sunyi di pinggiran pantai
dan menulis namamu pada ombakombak kecil

atau menyimpan rindu itu di antara desir angin dan daun cemara
kamudian melempakrkan batubatu dada pada perut matahari

lalu aku berkisah pada nelayan tentang penyair yang melaut sehari
semalam hanya untuk merasakan asin garam

ternyata masih lebih perih jika telah mengenai lukaluka—katanya
maka antara pergi dan jalan pulang aku pun memilih untuk tetap disini

menjadi penyair yang selalu tenggelam dalam katakata sendiri
dan kau bersedia membacakan ketika orangorang terlelap gulungan ombak

Yogya, 2010


Semedi Panjang

bila lilinlilin ini kau padamkan bagaimana aku tahu cahaya bulan dan
pendarpendar bintang serta merasakan panasnya matahari

aku tak ingin tersesat di antara keraguan dan malam
sebab mataku sudah mulai binar dan dadaku terasa hangat sekali, sayang
sementara kita baru memulai semedi tapa panjang

bila hanya karena takut tak perlu kau membuka mata bacalah rinduku
berkalikali akupun akan menghafal kecemburuanmu dari kesunyian ini

jangan kaupadamkan lilinlilin ini atau menyimpannya di dadamu, sayang
hingga kita rasakan cinta seperti yang lahir dari hati Yusuf dan Zulaikha

Yogya, 2010


Surat Merah

surat merah yang kau tulis untukku adalah api
aku butuh kesunyian untuk membacanya agar mataku tak ikut terbakar
bukankah kau hanya ingin menyimpan api dalam dada dan aliran darahku

setelah meleleh nanti suratmu itu akan kulemparkan pada debur ombak
karena di sana ada secarik luka lama yang sedang mengaji rindu

silakan kau tulis lebih banyak lagi suratsurat merah dan letakkanlah di
pinggiran pantai, setelah perih nanti akan kutulis lagi dalam sajaksajakku
biar kesakitan itu berubah jadi nikmat—sebuah petikan gitar
yang menjelma seorang bidadari sedang menggantung bulan di leherku

pada saatnya kau terlelap, giliran desis sajakku yang akan membawamu
melesat ke atas langit menabur pernikpernik cahaya atas nama rintih rindu
kemudian kita benamkan masalalu demi mengundang matahari agar aku
tak lagi tersesat dalam lingkar waktu

Yogya, 2010


Narasi yang Hilang

jika kau anggap keberangkatanku itu adalah hilang maka lelapmu sendiri
yang akan menemukan kita telah tidak saling bertemu dalam mimpimimpi

aku telah berani menulis rindu penuh dalam namamu betapa kau ingin sekali
kubenamkan di tempat sunyi—pada kenyataan ketika kita saling mengisi

seperti bunyi rintik air yang selalu ingin menyimpan ketakutan dalam perigi
kupungkaskan akar kecemburuan yang tumbuh di bawah lembabjerami

dankau boleh menceritakan kegetiran darah memuncrat di tepitepi
tapi dengarlah dengan meletakkan kepalamu di dadaku—detak jantung ini

tibatiba di persimpangan jalan narasi sebait rindu hanya tersesat dalam sepi
padahal seharusnya telah mengantarkanmu sampai di sini

sekalian kuharapkan matahari meretakkan jalan paling sunyi yangku miliki
tapi lagilagi hanya ada mendung yang diamdiam menyimpan api

sampai di sini (kau) telah meleyapkanku sebagai lakilaki
sendiri. kembali kulis satu mimpi jadi makrifat sunyi dari sebuah narasi

Yogya, 2010


Sesuatu yang Hilang

pertama kali kaumenatap aku sudah merasa ada sesuatu yang hilang
dari pertemuan ini—dalam matamu kupelajari satu hal tentang bagaimana
menyimpan ricuh rindu dalam kesempurnaan purnama
(keheningan tetap katakata indah dan tak bisa jadi puisi)

apa yang mesti kulihat dari tatapanku sendiri yang telah patah ini
mencoba meramal dengan permainan rindu itu sudah tak bisa kulakukan
apalagi mendekapmu dalam kemesraan

sudahlah takperlu kau memaksaku menyelami matamu lebih dalam lagi
sebab aku terlanjur membuangnya pada hantaman ombak berduri
dan kau selamanya bisa jadi lautan bersama sisik amis ikanikan

ya. lalu kau tak perlu menanyakan kabarku
sebab sudahpasti aku jauh lagi pula aku tak yakin kaubisa menemukanku
dalam dirimu

Yogya, 2010


Air Mata Keruh

jangan sekalikali memaksaku memajang cermin tua yang telah retak itu
sebab kaupun takkan pernah bisa memecahkan keruh airmataku
—sebuah kesunyian telah menenggelamkanku dalam sajak si penyair

Yogya, 2010


Elegi Pertemuan

ada kesakitan memang yang sangat akan kupertahankan
demi meretakkan sebongkah matahari yang kauletakkan dalam dadaku
setelah retakretakan itu jadi kemarau akan kutancapkan di keduamataku

pelanpelan darah akan menetes bercampur air mata hangat
mengalir ke sungaisungai hingga di perbatasan paling menakutkan

berbulanbulan aku mengandung rindu entah dimana akan kubuang
segala tempat sudah penuh sesak dengan ribuan namamu
hanya ada satu kesunyian yang mungkin masih bisa menusukku

atau kusimpan saja dalam letihlelahku
biar penyair sunyi itu rela mengabadikan dalam sekumpulan sajaknya

Yogya, 2010


Sebait Kesunyian

mestinya malam ini kita sudah sampai di pulau sebrang setelah
tak ada lagi ombakombakberpacu dan berkalikali menerjang perahu
yang sedang membawa mimpi kita

hanya saja kita masih tersesat di antara nyanyian para nelayan
dan katakata yang bermukim di perut ikan

sudah pasti kita akan tenggelam karena perahu itu telah retak parah
lalu masihkah kau akan menangis seperti mata yang terluka
atau dengan hati damai kau ikut serta bersamaku menceburkan diri

sebab aku sudah tidak sabar ingin dilumat ombak sampai hancurlebur
kemudian akan kucari puisi sampai di tempat terdalam sekalipun

pada saatnya nanti
sebait kesunyian akan menenggelamkan rindu di dasar mimpi
bahkan selamanya dalam keabadian

Yogya, 2010

Ra. Maisur_Nispah



Ra. Maisur_Nispah ; Merupakan salah satu produk tuhan yang bersemedi di United States of Bragung yang terbit pada edisi 29 Juni 1994 di pangkuan ibunya. sampai sekarang ia masih tercatat sebagai Makhluk Tuhan yang paling Pintar, Funky Abiz, Kocak dan Setia pada kekasihnya. Disela-sela kesibukannya dia masih memperhatikan dunia tulis menulis bahkan sampai sekarang dia masih tercatat sebagai anggota Sanggar ANDALAS dan Teater KOTEMANG PP. Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep.

HENING TERCIPTA KARNA SENYUMMU

hari ini lara melebur bersama asa
yang tercipta dari wajah teduhmu
sementara kau cuma tersenyum
melihat diriku yang bersimpuh di pusaramu yang bisu
wajah manis duduk di altar moksa
mencoba untuk memaknai
teka-teki luka yang sempat kau sabdakan
dan ketika malam menyekat langit
kau datang mengintipku
dari balik janur yang mulai tertusuk oleh malam
tubuh mungilmu menari-nari
mengeja gemerincing alam
hingga terciptalah hikayat
membuat kau dan aku
mengukir risalah Laila dan Majnun
jujur ku baca lembar pengakuanmu
" Sur.... nafsuku tak terkendali "


SEORANG GADIS BERNAMA KACA

tataplah mataku kasih
riak gelombang yang terpantul
mengharuskanku mematung dibelahan bibirmu
selembar kaca yang menggantung dihamparan matamu
membuatku hambar
hanya satu kata yang sempat melompat dari bibirku
" ku ingin mempersuntingmu dengan basmalah "


HIKAYAT I

Lin….
Kepalamu terkelupas
Cahaya putih membuncah di ubun-ubunmu
; hentak
; lunak
Pecah membentuh noktah atom
Lin….
Prasasti yang menempel di punggungmu
Memaksaku untuk mengejanya
Meski sulit bagi batin
Lin…..
Garis yang melintang
Terpantul bersama luka yang menganga
Menghempas dinding kebisuan
Lin….
Kucengkram keningmu
Maaf…
Kuharus remukkan batinmu


RISALAH PURNAMA YANG LALU

Pandanganku melesat
Menerkam tubuhmu
Bayi dalam timanganmu
Menjerit
; Mendengkur
; Menanyaimu tentang nasib
Nasib mengapa kita terkekkang
Ah…. Bosan sekali aku membahasnya lagi
Ku akhiri dengan senyum
Semuga tangis ini bertahta di pelupuk nadiku


TERPUNGKUL BERSAMA CINTA

Sempurnalah sekarang
Tubuhku kau tindih
Kau telan aku
Di ketiak pengabdian
Kerumunan kaummu
Memporak-porandakan sel-sel celah nadi
Tertelungkup di nahkoda
Dasar…..
Tak tau malu..
Kau zinahi aku


HAWA DIBIBIR PANTAI

Sajakku surut
Tercabut wajahmu yang kecut
Bersembunyi dibalik kabut
; Takut
; Lutut
Padahal, Sebelum kau menjajahku
Ku t’lah membungkus kata
Menjadikannya 3 ton kata
Tapi…
Kenapa sajakku surut


PANDORA

Pusaran waktu mempertemukan kita kembali
Dimulut laut
Kutemukan riwayatmu
Berbicara riwayat…..
Riwayatmu mengambang
Menubrukku dari tebing bait
Pandora….
Itukah tubuhmu
Berlayar dikaki langit
Menumbuk matahari
Dengan tombok metos
Pandora…
Kulantunkan namamu