Laman

Terima Kasih Anda Telah Berkunjung Ke Kawasan Penyair Madura

Rabu, 29 Juni 2011

Rusydi Zamzami


Lahir di Kampung Pang-panggung, Dusun Kombung Barat, Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, 09 Juni 1989, Madura, Jawa Timur. Alumni Mts Bustanul Ulum Ellak Daya tahun 2005 dan SMA Annuqayah Guluk-guluk tahun 2008. Sekarang sedang nyantri di PP. Annuqayah daerah Latee sekaligus mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-guluk Fakultas Syari'ah Jurusan Mu’amalah. Menulis puisi, cerpen, esei, opini, gagasan, resensi, dll. Karya-karyanya dimuat di media lokal dan nasional. Seperti, Kompas (Anak), Jawa Pos (Gagasan), Radar Madura (Jawa Pos Group), Annida (Online & Cetak), SituSeni (Online), Ummi, Sidogiri, Kuntum, Keren Beken, Fajar, Hijrah, Isabella, Al-Kaun, dll. Antologi puisi bersama kawan-kawan; Rumah Seribu Pintu (RSB, 2008), Annuqayah dalam Puisi 2008—bersama D. Zawawi Imron, M. Faizi, Maftuhah Jakfar, Bernando J. Sujibto, dlsb—(BPA, 2008), Manuskrip Pertama 2009 (BPA, 2009), Tinta Kehidupan (TIRTA, 2010), Risalah yang Membumi (COTOT, 2011), Safar (RSB, 2011), Getir Maut yang Memburu—bersama dua teman: Aidi Audaria dan Khalil Tirta AngGara—(Rumah Kata Press, 2011), dan Suara-suara Rakyat Kecil—bersama Naning Pranoto, Ahmad Nurullah, Uki Bayu Sedjati, Aant S. Kawisar, Remmy Novaris DM, Sides Sudyarto DS, Shinta Miranda, Heru Emka, dlsb—(Rayakultura, 2011). Bergabung di komunitas sastra Bengkel Puisi Annuqayah (BPA) dan Rumah Sastra Bersama (RSB), Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Beralamat: PP. Annuqayah Latee, Al-Bukhari No. 21, Jl. Makam Pahlawan, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur 69463. Phone. (0328) 821366, Faks. (0328) 821155. E-mail: rusydizamzami@gmail.com

HUJAN DAN PUING-PUING KOTA
:Syahdaka Musyfiq Abdaka

masih setiakah kau menafsir hujan
ke dalam kata-kata yang disusun
dari puing-puing kota
dan pernahkah seseduh angan saja
kau mengingat sajak kecil
—yang kuanggit dari sisa mimpi
dan perih luka ayah-ibu
memanjakan ladang-ladang
dengan keringat dan do’a-do’a
siang-malam—
yang beberapa waktu lalu
dilarikan api entah kemana

sementara manusia-manusia tetap saja
sebagai suara-suara
yang terus menghujat tuhan:
kau, yang katanya tuhan!
mengapa kau letuskan rumah-rumah
dan tubuh-tubuh
tak adakah ulah yang lain
ataukah telah bosan
sehingga mengacau otak kami
dengan hal-hal di luar batas kemampuan
seperti angin mengacak daun-daun
kapan pun ia mau
maka, mulai saat ini

kucerai dan kulepas kau dari tubuh kami
sebab kami sudah tak lagi butuh kau
sebab kami sudah tak lagi butuh tuhan
sebab kami ingin bebas
dan akan kami bangun kembali
puing-puing kota ini
menjadi kota yang lebih damai dan asri
—tentunya tanpa kau: tuhan
dan segala aturan

duh, kau dengarkah suara-suara itu
semakin hari semakin mengejutkan
dan menggetirkan maut
yang berteduh di bawah pohon
satu-satunya
yang masih tersisa di jantung kota
dan semoga saja kau tetap setia
menafsir hujan ke dalam kata-kata
yang disusun dari puing-puing kota
lalu kuamini kau sebagai penyair
yang tak hirau pada logika

Guluk-guluk: Februari, 7~2011.


KAMU
:roihatul hasanah

aku selalu ditipu waktu
mengingat kamu
jatuh ke dalam labirin mimpi
yang menggelapkan batin
maka kuliarkan khayalku
menyunting matamu
biar kunang-kunang
yang kerap menyangkutkan diri
di situ
tak lagi mengapungkan rembulan
dan pindah
jadi bingkai mayatku

Guluk-guluk: Januari, 14~2011.



PENGAKUAN
dari yang—katanya—kafir

kau ganggu tidurku
dengan tetes darah
yang memantul di bantal
kau balut tubuhku
dengan cuaca gaib
yang merenggut
khayal
ya, ya
aku memang telah menceraikanmu
sejak dua putaran musim yang lalu
dan kau sendiri sudah tahu
bahwa alur langkahku
adalah jalan takdir
yang kau restui sebagai lawan sekutu

Guluk-guluk: Januari, 20~2011.


HIJAU
:jasadku

kau balut jantungku
dengan warna tuak
dan daging pelacur
kau letuskan kata-kata
hingga matamu menyala
dan terbakar:
semasih hijau dan basah, menarilah
wah, tidakkah kau rasakan
di samping rumahmu
daun-daun gagar
sebelum bau melati
menyentuhnya

Guluk-guluk: Januari, 21~2011.


MENJEMPUT MUSIM DAUN

untuk mejemput kedatangan musim daun
telah kusiapkan segala yang menjadikan betah:
tanah yang luka di halaman
kubasuh dengan airmata
dinding yang berlumut di gedung
kuhapus dengan darah
pohon yang retak di samping rumah
kutambal dengan daging
wah, betapa seluruhku
sebentar lagi patah-patah
mengalirkan langkah-langkah

Guluk-guluk: Januari, 24~2011.

Selasa, 10 Mei 2011

Rasyiqi


Rasyiqi Lahir di sumenep 13-12-1994 Tinggal di sumenep 69472 madura,jln raya batang-batang dasa gapura timur dik-kodik gapura hp; 087850086764 . Pendidikan MAN sumenep jalan. Kh agussalim no:19 pangarangan dan kini masih bersetatus sebagai siswa MAN. Pernah mengabdi di sanggar 7 kejora dan sekarang mengabdi di teater Diam MAN sumenep serta makhluq penghuni komunitas Rumah Senja. Menulis karya di majalah Sap@neka, Madaniyah dan beberapa buletin lokal lainnya serta menulis karya untuk dirinya sendiri sebegai penikmatan seni. Pernah mendapat juara II lomba menulis cerpen se-kabupaten Sumenep dan lomba cipta puisi spontan jura I dan II di sekolahnya serta juara III lomba teater se-madura bersama kawan-kawannya di pamekasan

Dalam tanya

Dalam tanya
Bulan dan dalam pandangannya terjaga
Tahajjud kantuk
Kuajak bersunyidari tatapan jalan
malam itu_
ketika sampah klamin bergelantungan
di mesjid, begitu matamu
mengobarkan air mata orang-orang
malam itu_
28-04-11


Kota
; dalam panggangan matahari

Kota yang tak mendengar azan di kumandangkan dari masjid yang di tampar kebisingan. Dari mesjid ke telinga para wanita jelata di sebelah mata kota yang buta. Tukang becak mengayuh harapan berkeliling kota yang di panggang matahari seperti legam leleki jelata dalam pelukan nasib di pundaknya. Begitu saja mulai dulu!! kota tuli kota buta ada yang gembira pada lelaki dan wanita-wanita yang beserakan serupa patung-patung, pepohonan dan tembok di taman kota


susuri sumenep

hijau.pasang.warna-warni
gersang garam-garam.lampu dan
listrik asslamualaikum pada
orang-orang lalu-lalang

29-04-11

Rabu, 04 Mei 2011

A`YAT KHALILI



Bernama asli Khalili. Lahir di kampung Telentean desa Longos, Gapura, Sumenep, 10 Juli 1990. menyelesaikan pendidikan dasarnya di desanya sendiri (MI Taufiqurrahman, sementara SMP-nya ia habiskan di Yayasan Abdullah( YAS`A) Pangarangan, Sumenep.Ia selain menulis puisi, juga cerpen, esai, dan naskah kebudayaan agama. pada tahun 2006; memenangkan juara ke-2 lomba cipta puisi remaja tingkat nasional dalam rangka Bulan Bahasa & Sastra di Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2006; memenangkan juara 1 lomba penulisan sastra tingkat remaja Jawa Timur, di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya 2006; memenangkan juara 1 sayembara penulisan sastra tingkat remaja Jawa Timur, di Teater Kedok SMAN 6 Surabaya 2007; memenangkan juara 2 lomba penulisan puisi religius tingkat mahasiswa se-Indonesia yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Purwokerto, 2010); nomine lomba cipta puisi Forum Tinta Dakwah (FTD) Forum Lingkar Pena (FLP) Riau, 2010; nomine lomba menulis puisi bertajuk “ Batu Bedil Award 2010” yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus, dalam rangka Festival Teluk Semaka (FTS) 2010; juara ke-1 lomba cipta puisi “ Give Spirit For Indonesia 2011” , Januari 2011; dan finalis lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto 2011 ini. Ia juga mengikuti undangan Liburan Sastra Pesantren (Berlibur, Berkarya, Bersastra) bersama Penerbit LKiS dan komunitas Matapena, Jogja 2008. karya-karyanya yang sudah terbit;Akhir Sebuah Jalan (2006) Rumah Seribu Pintu (2007. Ia juga salah satu pendiri Rumah Sastra Bersama dan penggerak Bengkel Puisi Annuqayah.
Beralamat: Jl. Makam Pahlawan, PP. Annuqayah, Daerah Latee, Rayon Al-Bukhari 23, Guluk-guluk, Sumenep Madura Jawa Timur 69463.


Di Purwokerto

Hujan menyusut ke malam, hanya hitam
Dan putih. Kilat yang menggelombang
Dari sunyi, berpijar berat di wajahmu
Yang menahan gigil. Butir demi butir
Menemani perjalananku ke kota ini

09/Maret/10-10/April/11.


Malam Kaba

Menyusuri jalan penuh simpang, namamu jatuh
Dari kerangka puisi. Semburat cahaya tertangkap
Menikam kedipan mata, sebelum bingkai fajar
Sejenak perjalanan lahir...

10 April 2011, Lancaran.


Pagi Di Sabalao

Hanya sebuah jejak dan gerimis yang menenggelamkan
Suaranya ke percikan tanah yang terkubur keriput cuaca
Dan wajah petani.

10 april 2011, Latee.


Gerhana

Matamu yang sesibak, melahirkan para pezirah
Ke pelataran, dengan mata berkilat-kilat. Kutemui kau
Di ujung gerhana, serupa penjaga malam
Dan bayangan fana

11 april 2011, Latee.

Minggu, 01 Mei 2011

SYAIFUL RAHMAN



Lahir Sumenep, 14 Agustus 1995.
Pendidikan sekarang MAN Sumenep, jln. KH. Agussalim no.19 Pangarangan Sumenep Madura 69412. Dan sekarang tinggal di dsn. Sedung ds. Batangbatang daya Rt: 02/Rw: 05 Batangbatang Sumenep 69473. Hp. 087 850 097 548. Karya-karyanya termuat di buletin-buletin sekolah dan pernah juara ke-2 pada lomba cipta puisi se-Kecamatan Batangbatang.


TRAGEDI DI PERSIMPANGAN JALAN

Aku adalah ibu dari anak-anak yang selalu merindukan kebenaran
Mereka berjang, karena makna lebih berharga daripada nyawa
Walau di persimpangan waktu mayat-mayat bergelimpangan

Setiap ku acungkan senjata
Mereka rubuh menahan mantra
Menggigilkan nafas-nafas membara

Di stasiun-stasiun senja, ku tunggu gelap
Dengan penyerahan habis-habisan

Dengan tulang berbalut darah
Ku gerayangi malam!

Karena aku adalah ibu dari anak-anakku.

(29/03/2011)


TENTANG MALAM

Ada gelap menuruni tangga-tangga hatiku
menciptakan kemesraan dan ilham yang ranum
Sesekali lagu-lagu malam pun membsingkan persetubuhan ini.
Ah, para penyair masih saja iseng mencari kata-kata,
dan melukis malam jadi airmata.
Padahal setiap kali ku kecup kening malam
khalwat-khalwat beterbangan
dan kematian adalah kenikmatan luar biasa.

Selama percumbuan ini belum selesai
tengoklah rumahmuyang penuh airmata,
kamar-kamar yang sarat mahkota,
dapur-dapur yang penuh makanan ala kota,
ranjang-ranjang yang sarat tuna susila.
Kemudian tengoklah di pelataran
ada pusara merindukanmu.

Ah, ternyata aku mencari kata-kata jua!

(19/04/2011)


190411

Tiba-tiba gagak mengirim kabar
Tentang akhir pertemuan diantara kesibukan berebut nilai.
“kesedihan hanya gap pertemuan dan perpisahan”
Sedang keranda tetap terbang bersama doa airmata.
Rentetan-rentetan asma-Nya
Membanjiri awal persetubuhan malam
Membimbingnya menuju altarTuhan
Untuk penyerahan dan penyaksian dengusnya sendiri.

(23/04/2011)


Minggu, 17 April 2011

Zaka Khairiz Zaman




Zaka Khairiz Zaman, lahir di Jaddung Pragaan Sumenep Madura. Bernama asli Muhammad Khairuddin. Mulai bergiat di bidang kesenian sejak duduk di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Selain menulis puisi dia juga gemar menulis cerpen dan esai. Karya-karyanya yang pernah terpublikasikan, tergabung dalam: Antologi Bersama Saksi Mata Saksi 3 (Saksi, 2008) Taman Kita Bernama Langit (Taman Langit, 2009) Air Mata Air (Air, 2010) Lelaki Penunggu Malam (Koma, 2010) Balairung Sajak Mata (GSK, 2011) serta Antologi Tunggal; Kiblat Purnama, Dokumen Pembaiatan dan Nyanyian Pagi (2010). Memperoleh Juara Harapan I Lomba Baca Puisi Umum Tingkat Kabupaten yang di adakan OSIS MTs Hidayatul Ulum (Bulu Pragaan Daya) 2009, Juara I Lomba Cipta Puisi, dalam rangka Pekan Maulidiyah OSIS MA Tahfidh Annuqayah (Guluk-Guluk) 2010, Juara Harapan III Lomba Cipta Puisi Umum Se-2 Kabupaten [Sumenep-Pamekasan] OSIS Putra PP. Agung Damar (Telaga Pakamban Daja) 2011. Tercatat sebagai salah satu sisw MA Tahfidh Annuqayah. Sekarang menetap di bumi Annuqayah daerah Lat


MENYAUH MIMPI

Di lorong ini
Aku pandang bintang gemintang dari lentera
Pada sudut-sudut yang gelap
Dengan sebait puisi
Sesekali malam menjelang
Menyauh mimpi di lautan yang mendung
Menorehkan ruang dari sebait sajakku senja ini

Di lorong ini
Aku hendak berlayar
Mengisahkan setiap prasasti yang gelap di altar kata-kata
Mengeja segala bahasa rindu
Pada angin kemarau musim depan

Stasiun yang mengantarku pada senja
Menanam usia seekor camar yang bermain harpa
Dan menuturkan setetes luka
Tentang mimpi-mimpi yang sulit aku tafsir

Dan, "kemudian"
Bahasa yang memanggul segala resah
Tak dapat kulayari dengan kapal-kapal tongkang
Melalui ringkasan abjad
Sebab kembara yang sesat mengisi setiap ruang
Dalam kisah roman kita malam ini

Luk-guluk, Mei 2010


DOA RINDU
; Ummi

Di petang ini
Kau tanya aku: berapa jumlah bintang di langit
Tapi aku hanya diam sambil kuhadapkan aku
Pada matamu yang penuh rindu
Lalu, kau panggil musim luka
Dengan airmata yang menjelma karang

Kau masih tanya aku
Tentang kabut yang tumbuh di ujung jemariku
Lalu, kujawab dengan lantunan puisi
Serupa pedang abrahah yang terhunus
Kala sunyi menjelang

Pada petang kali ini_
Mataku menjadi danau
Tempat para harem mandi dengan gula-gula surga
; pada resah tertahan, aku menggumam
"berartikah aku di hadapanmu?"

Luk-guluk, Mei 2010


KETIKA AKU MEMBACA PETA DI DINDING MATAMU

Aku mendayung sampan kedasar hatimu
Melabuhkan segala roman dan paradoks
Hingga puncak rantau di dinding matamu

Di dekat biara
Fajar berkabut dan jalanan basah ketika senyummu terurai
Menanti kidung melati memainkan tembang bersama nyanyian pagi
Dari gemiricik daun pala
Aku masih mendalami hutan ketika kau melukis sebait puisi
Dengan ujung jemarimu sambil bermain harpa hingga zenith

Semusim sudah aku memanggul luka
Yang menidurkanku dengan kealpaan
Sebab tak jua kutemukan jawaban
Tentang angka-angka yang kau titip di sore itu
Lantaran aku tak sempat mengeja gerimismu yang miris kelabu

Aku mendayung sampan kedasar hatimu
Berharap di dermagamu kutemukan senja
Seperti sebuah karang di dinding matamu
Yang karam meninggalkan sunyi

Annuqayah, Juli 2010


MEMAHAMI HUJAN
: Sahabatku: Moh. Ali Wafa

Mengingat satu demu satu kisah pertemuan abad silam
Pun merangkai seberkas narasi tak berbekas
Tentang burung camar yang biasa memanggilmu dengan kalimat rindu
Kau tak mungkin merangkai kata-kata
Kecuali kau datang dalam panggilannya siang ini

Fa! Aku tahu, kabut dimatamu
Mengajarkanku kembali pada samudra yang kelabu
Ketika kutemukan bintang temaram disudut hatimu
Aku coba merangkulmu pada permulaan abad pertama
Menampung segala resah diruang senja
Tersebab jalan yang kau tuju tak selamanya merangkai fabel

Fa! Biarlah kini kupulas semi menjadi gugur
Menyelimuti kegundahan hatimu kala mengingatnya
Yang begitu riang mendayung nasib
Menjelma lentera bak matahari yang mengahangatkan dunia
Sebab kita tahu semua hanyalah harapan

MATA, Oktober 2010

Minggu, 13 Maret 2011

Masduri,



Lahir di Jadung Dungek Sumenep pada 16 Rabi’ul Awal 1412 H bertepatan dengan 25 September 1991 M. Suka menulis Puisi, Cerpen, Artikel dan Resensi. Beberapa tulisannya sudah tersebar diberbagai media, baik lokal maupun Nasional. Semasa kecil ia menamatkan pendidikan dasarnya di MI Tarbiyatul Muta’allimin Jadung, dan melanjutkan di MTS & MA Nasy’atul Muta’allilmin Gapura. Disamping belajar di pendidikan formal, ia juga menetap di PP. Nasy’atul Muta’allimin (NASA) selama enam tahun. Di PP. NASA bersama sahabat-sahabatnya ia mendirikan komunitas EDENSOR, sebagai media pembelajaran berdiskusi dan menulis. Sekarang sedang menempuh S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya jurusan Akidah dan Filsafat, sambil nyantri di PP. Luhur Al-Husna Surabaya. Ia aktif di bergagai organisasi salah satunya, Bengkel Penulis PP. Luhur Al-Husna, IKMAS, dan PB. IKON. Cerpen dan puisinya terbukukan dalam Antologi “Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan” 2010. Blog pribadi www.masduri.wordpress.com dan E-mail: masduri_as@yahoo.co.id


Nek, Mimpi Itu!


Nek, batu-batu yang aku
susun dari keringat masa lalu
dewasa dengan air matamu
membentuk lingkaran bola
tanpa jedah titik koma
bergulir seiring nafas
melantunkan lagu-lagu legenda
para pujangga

Nek, keriput tubuhmu
mengikatku dengan seulas tali
yang aku panjangkan sebagai jalan pulang
untuk aku titi di persimpangan waktu

Nek, dari uratmu
gairah mimpi tumbuh kembali
subur bersama wejangan
yang kau tanam di sanubari

Nek, aku kembali mengingat
saat kau mengajariku kata-kata
mengeja rangkak hidup
yang berjalan dari warisan leluhur

Nek, darimu sumbu damar
tak pernah redup
selalu ceria melukis aksara mimpi

Nek, mimpi itu
telah beku menjadi baja
tak surut pantang kembali
biarlah ia keras dalam hati
aku akan belajar dari senyummu
yang tak lelah memanjat takdir

Nek, bila aku pulang
dengan panen melimpah
aku ingin mengajakmu berlibur
menyusuri purnama berparas mawar
biar engkau tahu luasnya jagat bumi
serta layar mimpi dapat mengalir ke rumah tempat aku dilahirkan

Nek, kau muara tempatku mandi
membersihkan kegelisahan ruang hati
semoga aku dapat mengembalikan
keringat dan air matamu
meski tidak sederas terjun

Jadung, 19 Februari 2011


Ibu, Mimpi Itu!

Aku lahir dari senyummu
Di pelataran senja
Sebagai purnama menyambut pekat asap
Kugulung tikar-tikar sepi
Terang bercumbu bersama tawa
Menertidurkanku dalam pelukan mesra
Aku telah satu dalam hati dan jiwamu
Karena aku lahir dari makanan
Yang kau lahap ibu
Sebagai pengganjal meluruskan
Bambu-bambu pagar rumah

Kini aku telah dewasa
Mulai menaiki keterjalan bukit
Bersama krikil-krikil kugarap
Gapura depan
Pintu gerbang aku pulang
Tempa kau menyusui baliaku

Air mata dan keringat yang membesarkanku
Telah matang mengaduk dalam bejana
Rindu masa depan yang lahir dari mimpi

Ibu, Mimpi itu
Telah ratusan abad menjelma jadi puisi
Saking aku belum sempat belajar mengartikan
Kata-kata tanpa tubuh dan baju
Karena terlalu dini
Jasadku mengumpulkan darah dan sumsum
Mulai hari ini
Kuikrarkan hidupku jadi mimpi
Dan mimpi adalah jasadku
Untukmu ibu

Aku lahir dari mimipi
Dan kembali kepangkuanmu
Dengan menebus mimpi
Yang aku gadaikan pada
Pada bukit-bukit air mata

Jadung, 21 Februari 2011


Bapak, Mimpi Itu!

Derap kakimu
Selalu mengusik kesendirianku
Tak letih membajak nasib
Meski tanah-tanah liat
Membentuk batu tajam
Mengungkung dalam tangis siwalan
Kadang-kadang pula air laut
Mengasinkan tubuh dan bajumu
Demi seulas senyum dari keluarga

Bapak, urat-urat tubuhmu
Mengekar menebas batang-batang duri
Di pesimpangan jalan
Tempat nasib dipertaruhkan
Keringat yang menetas jadi senyum
Membakar nyali anakmu
Untuk tegar melampaui
Gelombang laut dan angin badai
Di sana telah kupetakan jalan
Jelajah ruang-ruang angkasa
Biar aku bisa belajar dari gigihmu
Tak tidur sepanjang petang
Mengais rezeki dari keringat laut

Bapak, mimpi itu!
Lahir dari senyummu
Yang kau lukiskan pada tubuhku
Saat anakmu masih dini
Melontarkan kata-kata lewat daun sirih
Aku dewasa karena cinta kasihmu
Tabi’at nurai sang pahlawan
Tak harap pulang kembali

Bapak, aku tak akan beranjak
Sebelum semuanya
Benar-benar rampung dihadapan
Mimpi itu adalah adukan keringat
tangis, dan senyummu

Jadung, 23 Februari 2011

Senin, 07 Maret 2011

D.Zawawi Imron



(Batang-Batang - Madura)

Dikenal sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki Jakarta (1982), Tahun itu terbit kumpulan sajaknya “Bulan Tertusuk Lalang” (Balai Pustaka). 1987, “Nenek Moyangku Airmata” dapat hadiah Yayasan Buku Utama. “Celurit Emas” dan “Nenek Moyangku Airmata” (1990) terpilih buku terbaik Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Penyair tinggal di Batang-Batang, sebuah desa ujung timur pulau Madura. Zawawi banyak berceramah Agama sekaligus membacakan sajaknya, di Yogyakarta, ITS. Surakarta, UNHAS Makasar, IKIP Malang dan Balai Sidang Senayan Jakarta
Juara pertama nulis puisi di AN-teve (1955). Pembicara Seminar Majlis Bahasa Brunai Indonesia Malaysia (MABBIM) dan Majlis Asia Tenggara (MASTERA) Brunai Darussalam (Maret 2002).
Kumpulan-kumpulan sajak “Derap-derap Tasbih”, “Berlayar di pamor Badik”, “Lautmu Tak Habis Gelbis Gelombang”, “Bantalku Ombak Selimutku Angin”, “Madura Akulah Darahmu”.
Salah satu puisinya :

Ibu

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu


Di Sebuah Tikungan

Di sebuah tikungan aku bertemu seseorang, sambil
menyebutkan namanya yang tak mungkin kuhapal
ia mengulurkan tangan
Tapi tangan kananku sedang kutinggalkan di rumah
menepuk-nepuk paha anakku yang hendak tidur,
terpaksa kuulurkan tangan kiriku
Orang itu marah, seketika tangannya berubah menjadi
cakar harimau, dengan kuku-kukunya yang tajam
bersiap untuk menerkam
Aku lari. Begitu ia mengejarku dan mengejarku, untunglah
segera kutemukan tempat aman dalam kidung
yang disenandungkan ibuku setiap larut malam

1978


Pesona Itu Melompat

pesona itu melompat
dari pematang ke pematang
(seperti kupu-kupu yang ditangkap
anak di taman
menabur serbuk-serbuk sanubari)
laut melambai
ketenteraman

-siapakah engkau ?-
tanya roh kepada badan
badan pun lalu menari
sedang roh memukul gendang
sekaligus melagukan nyanyian

pesona itu melompat
dan terus melompat
melumat-lumat kenyataan

1978