Laman

Terima Kasih Anda Telah Berkunjung Ke Kawasan Penyair Madura

Jumat, 10 Februari 2012

Marsus Banjarbarat


Lahir 20 September 1989 di Sumenep. Alumni SMA Al-In’am, Banjar Timur, Gapura Sumenep. Sekarang menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Puisinya telah dimuat di beberapa media massa lokal dan nasional. Sebagian puisinya terkumpul dalam buku antologi bersama Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010).


Kematian


ribuan musim
bertengger di tangkai bunga-bunga
dari garis bibir merekah
mengayun waktu berganti asa
matahari menggelinding
malam gugusan bintang melintas ruang pengap
habiskan garis-garis fajar bersinar redup
kemudian, kenanglah kematian bunga-bunga

kini entah sampai di mana seruak keminyan
mempesona bergilir sepoi angin
meluncur tajam
sayap-sayap dzikir kepastian
biarlah suara gumpalan airmata yang berat
sedenyut jantung kubisikkan nyanyian suci
kulepas airmata dari kematian bunga-bunga
dalam gelas akhir nasib dunianya

Yogyakarta 26 November 2009


Sepasang Kunang-kunang

sepasang kunang-kunang
bagai perak bening menghampar batas bumi
sebaris sajakku tersungkur
membaringkan buaian musim sejadah pagi

sepasang kunang-kunang
gemerlap antara tirai tafakur
mengisi celah ketawakkalan
nasib terkubur rapuh
meluncur bagai desiran angin
basah kuyup bagai kebahagiaan

sepasang kunang-kunang
telah kunikmati
sebuah permadani terhampar santun
sentuhan sujud di pagi bening

sepasang kunang-kunang
menggeliat di antara jendela bibir-bibir sunyi
seirama doa dari penderitaan kehidupan dan kematian
menetes seperti cahaya bulan
dikeharibaan Tuhan!

Yogyakarta 28 November 2009

Minggu, 25 Desember 2011

Ali H Syahbana



Lahir 07 april 1993 di Desa kombang, kecamat an talango, kabupaten sumenep. siswa SMA yayasan abdullah (yas’a) jalan kartini V1/04 sumenep (69412) Madura.dan sekaligus nyantri di pon-pes MATHALI’UL ANWAR pangarangan sumenep. Karya karyanya sudah di muat dimajalah-majalah sekolah ,dan cerpen pertamanya “senyum surga dibalik kerudung bulan” yang dipublikasikan di majalah deblis. Dan pernah menjabat sebagai ketua redaksi majalah Deblis tahun 2009-2010. dan juga aktif di beberapa organisasi terutama organisasi IKSMAT (ikatan santri mathali’ul anwar talango) .

Celurit Fajar
Untuk: D.Zawawi Imron
Celurit itu berlogika
Ku genggam dari bukit gelora
Menyimpan nafas fajar
Menghanyutkan cahaya
Ke dasar gelombang jiwa
Menumbuhkan biji
Jadi batang

Sebilah matahari di tangan kananku
Menaklukkan seribu dzikir rerumputan
Yang bermain-main di mata fajarku

Dan.......
Dan waktu yang berlabuh
Terikat di tangan kiriku
Lalu ku bentangkan celurit fajar
Kutikam ulu hatinya
;Sekejam rajam
Melelehkan darah dari puncak nyawa

Celuritku terbang
Menunggangi cahaya malam


Biarkan Aku Belajar Mencintai Puisi

Jika ku maknai secarik pena di atas kertas
Seperti desah gelisah ombak melukis pantai
Aku akan belajar mencintainya
Aku akan belajar melabuhinya
Dan berhenti mengartikannya

Aku akan belajar menyetubuhinya
Dan berhenti melupakannya
Aku akan belajar merayunya berdansa
Dalam waktu yang terluka
Dan dikala bahagia
Aku akan selalu setia
Dan tak setia bosan padanya

Biarkan aku belajar mencintai puisi.....!!!!!
Dan jika waktu mengijinkanku mengecup bintang
Aku kan bernyanyi bersama pantai
Dan akan ku tanyakan padanya
Tentang mencintai dari sebuah arti puisi
Yang saat ini masih kucumbui.....


Dzikir Rindu

Gemuruh pantai itu
Menyisahkan kasihmu padaku
Dan ikan-ikan selalu mengkhawatirkanku
Tentang rindu lupakan aku

Jika kau tanya tentang cerita laut
Kujawab,namamu yang seindah gelombang
Jika kau tanya tentang lukisan pelangi
Hanya nyanyian namamu tiap detak jantungku

Daun-daun itu.........
Selalu menari bersama nyanyian salamku padamu

;jika kau tanya dzikirku
Dzikirku tentang kerinduan
Dan jika kau tanya tentang pengalaman hidupku
Pengalaman hidupku tentang kerinduan

;Pandanglah di langit malam
Kerinduan menggantung mekar sepenuh jiwaku
Dan pandanglah masjid di mataku
Terlanturkan dzikir,dzikir kerinduan


Diakhir Nafasku
Buat: M

Seuntai ranting melati
Merongrong rongga dada
Diakhir amplop cinta
Setetes darah menjelma malam yang kelam
Tuk membuktikan kalender cinta
Merengkuh wajah senja
Selembut embun
Adalah Adinda

Diakhir nafasku,
Sudihkah engkau menari bersamaku
Mendendangkan lagu dan tarian asmara
Tuk menikmati senyum “surga” kita
Agar asaku tak lagi rapuh........

Dinda .....
Belailah aku dengan selendang birumu
Karena hatiku tersesat di samudramu
Yang terdapat dimaknai tetesan air mata

Jumat, 11 November 2011

Zainul Muttaqien


Zainul Muttaqien Lelaki kelahiran Kampung Garincang, Batang-Batang Laok, Batang-Batang Sumenep Madura 18 Nopember 1991, Ia seorang Mahasiswa Bahasa Inggris STAIN Pamekasan Madura. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura, pernah bergiat di Komunitas teater sanggar Andalas Ponpes Annuqayah dan pernah diundang mengikuti Liburan Sastra Pesantren (Berlibur, Berkarya, Bersastra) se-Indonesia oleh Matapena bekerjasama dengan penerbit Lkis di Yogyakarta dan beberapa penulis terkemuka di Indonesia (Yogya, 9-12 Juli 2008)
Beberapa karyanya berupa Artikel, Gagasan, Essay, Cerpen dan Puisi dimuat di beberapa Media seperti; Majalah Kuntum (Jogjakarta,) Majalah Almadina(Surabaya) Joglo Semar, Banjar Masin Post, Merapi, Radar Madura (Jawa Pos Group), Jawa Pos,
Karya-karyanya juga masuk dalam beberapa Antologi bersama seperti; Kaliopak Menari (Antologi Puisi dan Cerpen, Matapena: Jogjakarta, 2008) Wanita yang Membawa Kupu-Kupu (Antologi Puisi dan Cerpen, Dewan Kesenian Sumenep: Juni 2008) dan salah satu cerpennya (Perempuan yang Melukai) masuk sebagai Pemenang Karya Favorit Tingkat Nasional LMCR 2011 yang diadakan Rohto Mentholatum Golden Awards


Fragmen Air Mata

Engkau selalu datang dengan sisa gerimis di wajahmu
Mengabarkan sepi yang perih dengan suara-suara sumbang
Sebentar langit mengisakkan tangismu
Menjadi musim-musim kemarau di tanah-tanah

Matamu merekah sayu meminang kenagan letusan tertumpah
Luruh yang mendendangkn sayup di paras luka
Kini beribu luka mendesah nyeri meradang dimatamu
Memanggil masa silam dari impian yang terluka
Serta dahaga di matamu masih mengabarkan air mata
Tersungkurnya kisah-kisah dalam rekaman
Menderu di matamu

Sampai waktu menghabiskan sisa usia
Engkau datang dengan mata mengalir

Yogyakarta. Agustus 2009



Aku Berlari ke Matamu

Seperti malam-malam yang mendesirkan angin
Dan setelah itu hujan runtuh melalui derit-derit pintu di rumahmu
Jendela-jendela itu perlahan merapatkan sepi
Aku berlari ke matamu dari sisa jalanan peristiwa yang ngeri perih nyeri
Seperti tidur dengan mimpi-mimpi peluru mengerang tangis
Setelah terbangun kembali kematamu aku berlari
Diantara desakan-desakan hujan malam itu
Berlari ke matamu sampai surga lahir disana sebagai rumah

Aku mengupacarakan keabadian hidup di matamu
Seolah hari-hari yang kemarin memudar ke udara dalam kisah
Sebab terakhir pelarian ke matamu
Terlahir senyum
Mak sesudah setiap peristiwa nganga nanar mengalir jerit
Aku terus berlari ke matamu

Di matamu aku berlari

Yogyakarta Agustus 2009


Tayyuban
:kawan-kawan teater Sanggar Andalas(Annuqayah)

Aku datang dari hlir tasbih dalam dzkirmu
Semerbak aroma kuusapkan di halaman matamu
Menebar rindu dalam persembahan sujud

Disini kita mendendangkan kenangan
Merangkai matahari dalam senyum

Dan kita terus bernyanyi sebagai kekasih
Yang mengalun dalam gendang tayyuban itu
Dianatara penari-penari mesra

Annuqayah, Guluk-guluk. Sumenep 4 Februari 2008

Selasa, 02 Agustus 2011

Khatim Maulina

Khatim Maulina lahir di Kerta Barat Dasuk Sumenep Madura April 1991, Alumnus PP.Annuqayah Guluk-guluk Sumenep Madura, karya-karya berupa Puisi, Cerpen dimuat di beberapa Media seperti ;Majalah Almadina( Suarabaya) Radar Madura dan beberapa media lainnya
Sekarang aktif di berbagai Komuniatas Sastra, pernah mengikuti Liburan Sastra Pesantren yang diadakan oleh Matapena Yogyakarta, cerpenya masuk dalam Antologi bersama ; Kaliopak Menari (Matapena, 2008)



Jerit Rindu


Rintihan rindu di ujung keresahan
Membasahi danau gairah pada kedalaman rasa
Dan sampaikan salam kekasih
Pada tiap deru tasbih para malaikat

Diantara sajadah yang menangis
Mengenang kekasih dalam setiap sujud
Suara yang sekarat
Memanggil namamu pada langit

Rindu itu menjerit dalam setiap malamku

Sumenep 05 Januari 2011


Gelisah November

Getar jiwa menusuk batin kekasih
Kembali menoreh luka kegelisahan
November kenangan dalam gelisah

Senantiasa aku haturkan asmara abadi
Padamu kekasih
Tenatng sepucuk rasa yang tak lekang oleh waktu

Sumenep 09 Januari 2011


Tentang Kekasih
Kala gerimis di sudut kegelisahan
Aku meraung namamu
Sebuah keabadian dari masa silam
yang tak lekang oleh detak jantung

burung-burungpun mengabarkan angin kasmaran
dari ujung pelangi sore
dan disana aku bersabda
tentang kekasih “ kekasih adalah yang dekat ketika dunia sepi”

Sumenep 02 januari 2011

Rabu, 29 Juni 2011

Rusydi Zamzami


Lahir di Kampung Pang-panggung, Dusun Kombung Barat, Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, 09 Juni 1989, Madura, Jawa Timur. Alumni Mts Bustanul Ulum Ellak Daya tahun 2005 dan SMA Annuqayah Guluk-guluk tahun 2008. Sekarang sedang nyantri di PP. Annuqayah daerah Latee sekaligus mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-guluk Fakultas Syari'ah Jurusan Mu’amalah. Menulis puisi, cerpen, esei, opini, gagasan, resensi, dll. Karya-karyanya dimuat di media lokal dan nasional. Seperti, Kompas (Anak), Jawa Pos (Gagasan), Radar Madura (Jawa Pos Group), Annida (Online & Cetak), SituSeni (Online), Ummi, Sidogiri, Kuntum, Keren Beken, Fajar, Hijrah, Isabella, Al-Kaun, dll. Antologi puisi bersama kawan-kawan; Rumah Seribu Pintu (RSB, 2008), Annuqayah dalam Puisi 2008—bersama D. Zawawi Imron, M. Faizi, Maftuhah Jakfar, Bernando J. Sujibto, dlsb—(BPA, 2008), Manuskrip Pertama 2009 (BPA, 2009), Tinta Kehidupan (TIRTA, 2010), Risalah yang Membumi (COTOT, 2011), Safar (RSB, 2011), Getir Maut yang Memburu—bersama dua teman: Aidi Audaria dan Khalil Tirta AngGara—(Rumah Kata Press, 2011), dan Suara-suara Rakyat Kecil—bersama Naning Pranoto, Ahmad Nurullah, Uki Bayu Sedjati, Aant S. Kawisar, Remmy Novaris DM, Sides Sudyarto DS, Shinta Miranda, Heru Emka, dlsb—(Rayakultura, 2011). Bergabung di komunitas sastra Bengkel Puisi Annuqayah (BPA) dan Rumah Sastra Bersama (RSB), Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Beralamat: PP. Annuqayah Latee, Al-Bukhari No. 21, Jl. Makam Pahlawan, Guluk-guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur 69463. Phone. (0328) 821366, Faks. (0328) 821155. E-mail: rusydizamzami@gmail.com

HUJAN DAN PUING-PUING KOTA
:Syahdaka Musyfiq Abdaka

masih setiakah kau menafsir hujan
ke dalam kata-kata yang disusun
dari puing-puing kota
dan pernahkah seseduh angan saja
kau mengingat sajak kecil
—yang kuanggit dari sisa mimpi
dan perih luka ayah-ibu
memanjakan ladang-ladang
dengan keringat dan do’a-do’a
siang-malam—
yang beberapa waktu lalu
dilarikan api entah kemana

sementara manusia-manusia tetap saja
sebagai suara-suara
yang terus menghujat tuhan:
kau, yang katanya tuhan!
mengapa kau letuskan rumah-rumah
dan tubuh-tubuh
tak adakah ulah yang lain
ataukah telah bosan
sehingga mengacau otak kami
dengan hal-hal di luar batas kemampuan
seperti angin mengacak daun-daun
kapan pun ia mau
maka, mulai saat ini

kucerai dan kulepas kau dari tubuh kami
sebab kami sudah tak lagi butuh kau
sebab kami sudah tak lagi butuh tuhan
sebab kami ingin bebas
dan akan kami bangun kembali
puing-puing kota ini
menjadi kota yang lebih damai dan asri
—tentunya tanpa kau: tuhan
dan segala aturan

duh, kau dengarkah suara-suara itu
semakin hari semakin mengejutkan
dan menggetirkan maut
yang berteduh di bawah pohon
satu-satunya
yang masih tersisa di jantung kota
dan semoga saja kau tetap setia
menafsir hujan ke dalam kata-kata
yang disusun dari puing-puing kota
lalu kuamini kau sebagai penyair
yang tak hirau pada logika

Guluk-guluk: Februari, 7~2011.


KAMU
:roihatul hasanah

aku selalu ditipu waktu
mengingat kamu
jatuh ke dalam labirin mimpi
yang menggelapkan batin
maka kuliarkan khayalku
menyunting matamu
biar kunang-kunang
yang kerap menyangkutkan diri
di situ
tak lagi mengapungkan rembulan
dan pindah
jadi bingkai mayatku

Guluk-guluk: Januari, 14~2011.



PENGAKUAN
dari yang—katanya—kafir

kau ganggu tidurku
dengan tetes darah
yang memantul di bantal
kau balut tubuhku
dengan cuaca gaib
yang merenggut
khayal
ya, ya
aku memang telah menceraikanmu
sejak dua putaran musim yang lalu
dan kau sendiri sudah tahu
bahwa alur langkahku
adalah jalan takdir
yang kau restui sebagai lawan sekutu

Guluk-guluk: Januari, 20~2011.


HIJAU
:jasadku

kau balut jantungku
dengan warna tuak
dan daging pelacur
kau letuskan kata-kata
hingga matamu menyala
dan terbakar:
semasih hijau dan basah, menarilah
wah, tidakkah kau rasakan
di samping rumahmu
daun-daun gagar
sebelum bau melati
menyentuhnya

Guluk-guluk: Januari, 21~2011.


MENJEMPUT MUSIM DAUN

untuk mejemput kedatangan musim daun
telah kusiapkan segala yang menjadikan betah:
tanah yang luka di halaman
kubasuh dengan airmata
dinding yang berlumut di gedung
kuhapus dengan darah
pohon yang retak di samping rumah
kutambal dengan daging
wah, betapa seluruhku
sebentar lagi patah-patah
mengalirkan langkah-langkah

Guluk-guluk: Januari, 24~2011.

Selasa, 10 Mei 2011

Rasyiqi


Rasyiqi Lahir di sumenep 13-12-1994 Tinggal di sumenep 69472 madura,jln raya batang-batang dasa gapura timur dik-kodik gapura hp; 087850086764 . Pendidikan MAN sumenep jalan. Kh agussalim no:19 pangarangan dan kini masih bersetatus sebagai siswa MAN. Pernah mengabdi di sanggar 7 kejora dan sekarang mengabdi di teater Diam MAN sumenep serta makhluq penghuni komunitas Rumah Senja. Menulis karya di majalah Sap@neka, Madaniyah dan beberapa buletin lokal lainnya serta menulis karya untuk dirinya sendiri sebegai penikmatan seni. Pernah mendapat juara II lomba menulis cerpen se-kabupaten Sumenep dan lomba cipta puisi spontan jura I dan II di sekolahnya serta juara III lomba teater se-madura bersama kawan-kawannya di pamekasan

Dalam tanya

Dalam tanya
Bulan dan dalam pandangannya terjaga
Tahajjud kantuk
Kuajak bersunyidari tatapan jalan
malam itu_
ketika sampah klamin bergelantungan
di mesjid, begitu matamu
mengobarkan air mata orang-orang
malam itu_
28-04-11


Kota
; dalam panggangan matahari

Kota yang tak mendengar azan di kumandangkan dari masjid yang di tampar kebisingan. Dari mesjid ke telinga para wanita jelata di sebelah mata kota yang buta. Tukang becak mengayuh harapan berkeliling kota yang di panggang matahari seperti legam leleki jelata dalam pelukan nasib di pundaknya. Begitu saja mulai dulu!! kota tuli kota buta ada yang gembira pada lelaki dan wanita-wanita yang beserakan serupa patung-patung, pepohonan dan tembok di taman kota


susuri sumenep

hijau.pasang.warna-warni
gersang garam-garam.lampu dan
listrik asslamualaikum pada
orang-orang lalu-lalang

29-04-11

Rabu, 04 Mei 2011

A`YAT KHALILI



Bernama asli Khalili. Lahir di kampung Telentean desa Longos, Gapura, Sumenep, 10 Juli 1990. menyelesaikan pendidikan dasarnya di desanya sendiri (MI Taufiqurrahman, sementara SMP-nya ia habiskan di Yayasan Abdullah( YAS`A) Pangarangan, Sumenep.Ia selain menulis puisi, juga cerpen, esai, dan naskah kebudayaan agama. pada tahun 2006; memenangkan juara ke-2 lomba cipta puisi remaja tingkat nasional dalam rangka Bulan Bahasa & Sastra di Pusat Bahasa Depertemen Pendidikan Nasional, Jakarta 2006; memenangkan juara 1 lomba penulisan sastra tingkat remaja Jawa Timur, di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya 2006; memenangkan juara 1 sayembara penulisan sastra tingkat remaja Jawa Timur, di Teater Kedok SMAN 6 Surabaya 2007; memenangkan juara 2 lomba penulisan puisi religius tingkat mahasiswa se-Indonesia yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Purwokerto, 2010); nomine lomba cipta puisi Forum Tinta Dakwah (FTD) Forum Lingkar Pena (FLP) Riau, 2010; nomine lomba menulis puisi bertajuk “ Batu Bedil Award 2010” yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tanggamus, dalam rangka Festival Teluk Semaka (FTS) 2010; juara ke-1 lomba cipta puisi “ Give Spirit For Indonesia 2011” , Januari 2011; dan finalis lomba Cipta Cerpen Tingkat Mahasiswa se-Indonesia di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto 2011 ini. Ia juga mengikuti undangan Liburan Sastra Pesantren (Berlibur, Berkarya, Bersastra) bersama Penerbit LKiS dan komunitas Matapena, Jogja 2008. karya-karyanya yang sudah terbit;Akhir Sebuah Jalan (2006) Rumah Seribu Pintu (2007. Ia juga salah satu pendiri Rumah Sastra Bersama dan penggerak Bengkel Puisi Annuqayah.
Beralamat: Jl. Makam Pahlawan, PP. Annuqayah, Daerah Latee, Rayon Al-Bukhari 23, Guluk-guluk, Sumenep Madura Jawa Timur 69463.


Di Purwokerto

Hujan menyusut ke malam, hanya hitam
Dan putih. Kilat yang menggelombang
Dari sunyi, berpijar berat di wajahmu
Yang menahan gigil. Butir demi butir
Menemani perjalananku ke kota ini

09/Maret/10-10/April/11.


Malam Kaba

Menyusuri jalan penuh simpang, namamu jatuh
Dari kerangka puisi. Semburat cahaya tertangkap
Menikam kedipan mata, sebelum bingkai fajar
Sejenak perjalanan lahir...

10 April 2011, Lancaran.


Pagi Di Sabalao

Hanya sebuah jejak dan gerimis yang menenggelamkan
Suaranya ke percikan tanah yang terkubur keriput cuaca
Dan wajah petani.

10 april 2011, Latee.


Gerhana

Matamu yang sesibak, melahirkan para pezirah
Ke pelataran, dengan mata berkilat-kilat. Kutemui kau
Di ujung gerhana, serupa penjaga malam
Dan bayangan fana

11 april 2011, Latee.