Laman

Terima Kasih Anda Telah Berkunjung Ke Kawasan Penyair Madura

Selasa, 23 Maret 2010

Musyfiqur Rahman



Lahir di Sumenep 5 Juli 1994 asal Ganding
tekun menulis puisi mulai ia duduk dikelas VIII
MTs. Bercita- cuta ingin mrnjadi penyair yang bisa mengubah peradaban suram menjadi peradaban yang terang menderang, sekarang ia duduk dikelas akhir MTs. 1 Annuqayah, dan nyantri di PP. Annuqayah Daerah Latee Rayon Darul Lughah Al-Arabiyah
Alamat: PP. Annuqayah Daerah Latee Rayon Darul Lughah
Al-Arabiyah no 05
Jl. Makam Pahlawan Guluk-Guluk
Sumenep Madura 69463
email: arrahman_afia@yahoo.com


PIJAKAN SANG TUNANETRA

Awali pertemuan itu
Menghembus karena angin menepi
Tujuh kali keliling
Matagari padang siang kembali malam
Engkau tusuk dengan jarum
Sehingga peti yang engkau pinta
Terbuka meleset pergi
Mengapa engkau lihat darah
Dan melambaikan tangan
Menyebarkan tali
Agar aku bisa mendaki tali itu
Tetapi itu hanya memakan sisa air
Setelah beribu-ribu tahan berubah
Sehingga dikatakan pada tulang-belulang
“kami sekarang akan memberikan
matagari ditanganmu”
tetapi engkau buka pakaian kata
datangkan pada sayap burung
sehingga pulau yang dulu kami bangun
akan berhati-hati membuka urat saraf
sejauh tuan yang membaca ceritaku
ysng dulu sempat aku tulis didedaunan
dan lautan sebagai tinta

Guluk-Guluk 02\2010

BERKAS PUING DESA KAMI

Awali perjumpaan dengan perjalanan
Memupuk perhatian derita
Mendapatkan teriakan angin
Karena kami sedang menghadiri pesta
Demi anak tujuh turunan
Akan berlayar manuju kebun
Meninggalkan puing-puing dan berkas
Angi bersemilir membawa layar perahu
Menyisakan setapak jejak penggalang jejak
Lalu berubah menaklukkan kota
Di depan deesa yang penuh petir
Menyambar kehidupan yang mereka buat
Dari lagu kapal peperangan
Oleh mereka yang membaca tarian bumi
Sehinga air mata bumi menati aral
Menjadikan kami lubang
Wajahnya menyerupai udang
Yang tebang mencari teka-teki
Air mata terbaring di atas tawa mereka
Lalu apa arti makhluk yang selalu menepi
Karena pada mereka
Semua orang di sini
Mengharap makanan dari peluh

Guluk-Guluk 02\2010

Ummul Corn,

Ummul Corn,
Ummul Corn, adalah siswa SMA 3 Annuqayah. Berasal dari desa Tambuko Guluk-Guluk Sumenep 69463. Dunianya cukup silau oleh dongeng-dongeng pada setiap kilau butir jagungnya.


Membelah Topeng

Mad, nyala matamu adalah kunang kunang, malam itu
;saat kau menjelma katak bertapa dengan mahkota
Gigil angin menyapu telingaku
Lembut
Kau pintar meniup rasa
Kau lihai membisik kata
Tapi bagiku
Tak perlu kacamata untuk ku mengikat mata
Sebab aku tak rabun untuk
melihat tubuhmu yang biru, jernih, cahaya, dan panas
(hanya, aku takut terbakar…)

Ssst!
Suaramu berisik, Mad
Seperti tak tik hujan yang jatuh di seng kamar mandi
Hampir kau buat aku luluh oleh abjad
yang kau pahat pada relung relung rumah kayuku
Untuknglah
Tuhan masih melekat dalam urat
Hingga topengmu dapat kubelah

Guluk-Guluk, 04 Maret 2010


Kita Adalah Robot

Pada sebuah jembatan sore
Kau tengkurap di atas hamparan karpet merah
Kuda putih menari-nari di punggungmu
Aku berada di bawah cahaya bulan
Yang violet
Matamu
Juga pedangmu
Kita bertemu di rel kereta api siang bolong
Bohong
Khayal
Semua jadi kacau
Balau
Kau tertawa
Ada apa?
Aku menangis
Mengapa?
Pada sebuah keadilan
Kita tak pernah bertemu
Kau sore keemasan
Aku malam pekat
Siang itu rumah mereka
Pertemuan kita bohong!
Kita semua tidak gila
Tapi robot

Guluk-Guluk, 31 Januari 2010

Lelaki Angka Angka

Lelaki itu
yang meniupkan rindu
di sela sela bantal malam malamku
Lelaki itu
yang hadir
dengan sihir bermantra gigi putih
mampu membuatku mabuk dalam mimpi
hingga dejavu di negeri nyata
Lelaki itu
yang mengajariku berjalan
dari bukit
menuju surau tempat kekal kami
bersemayam
Lelaki itu
adalah guru
namun ia tak bisa menerjemah puisi
sebab di tangan kirinya hanya angka angka

Guluk-Guluk, 5 Januari 2010

Bakti Mata Carang

Kelahiran tanah pelosok kampung Bungduwa’ Sumenep Madura. Tulisannya telah terbit di berbagai media baik nasional maupun lokal. Alumnus PP al-Huda dan MA NASA Gapura Timur Sumenep. Saat ini masih terus aktif menulis karya fiksi di tanah kelahirannya. Mengasuh sanggar 7 Kejora, Kobung, Bengkel Sastra. Sajak-sajaknya terkumpul dalam antologi bersama yang perdana “Narasi Sebatang Rindu” Sakhera Pangabesen, 2010.


Biografi Sajak Rembang

Sajakku luruh ke dasar gelap
di lentang musim tahajjud mawar
menaruh akar pada gerai rambut perawan
Baca!
satu kata memenjara ribuan hati purnama
sajakku
hilang tajam beling
tersusun dalam bening
padam
bersama sepincuk adzan
yang menghibur lukalukanya sendiri
dalam kerjap mata muhammad
tulis!
Satu huruf menusuk lakon
seperti pecah jarum menjahti kenangan
setelah perpisahan

Sumenep, 280709

Perasaan yang Tertinggal di Pangkal Rambutmu
;Gusti elvia


Hati dirambah kakimu dengan perjalanan harum kumkuman
tumpah dari dua mata bulan yang menukar kilau
pada kesakralan malam lebaran
paku mata Yusuf, rembang menimang surat-surat cinta
memacak bidak sejarah ke beranda kebohongan Zulaikha
setelah melambang senyap tanah mesir di atas payudara
; Hanya dalam cinta
tubuh laut melebihi semesta

Sumenep, 310709


Belacu

pada belacu
hati tembok tua menyimpan murung
seluas minat ujung sabit melenyapkan gugus mata
lampu
di kamar tak berkelambu
(kematian menawarkan jenisnya yang lebih toleran
tanpa ketakutan, tanpa kehilangan, tanpa pesakitan
hingga menjadi pilihan bagi mereka yang tak pernah
bercinta menemui cantiknya dunia di ujung jalan)
pada belacu
asbak ata kukus
menyerap
maqom tembok tua
jadi juang yang terbang

Sumenep, 2009

Ibu

hanya ia
langit merendah di garam laut
meminjam asin untuk lidah hujan
yang menjilat peta di luar
bismilla
Sumenep, 250809
Di Muka Cermin
Hamzah takdzim
menancap
pada lambung trotoar
;……dan rumahrumah
kembali pada ajal

2009


Kembang Sujud

tuhan jatuh di lengkung garis hujan
dan guntur yang menampar-nampar runcing bulan
telah sampai dalam
jabat tangan
“lama tak mengenal-Mu yang Esa
selain kisut bayang membenam dalam kolam”
lubuk debu semu membisu di pias suram
biji istighfar
seperti gaib-Mu selalu kutanyakan
pada jalanjalan
yang enggan membuat batas
di keangkuhan zaman
Bungdua’2009
Menjelang Subuh
kujelang subuh, dingin sepi masih sebilah keris
melukai pertapaanku di lubung terkhim
tiada harap kecuali jalan melengkung
dari puncak sarung mengapi korek api
dan daun kering
ibu mendengkur dalam lepuh bulan dalam plastik
seperti ayah menusukkan pakupaku ke tubuh jam
agar waktu tak menyuruh
kujelang subuh, seekor semut mengumpan kail
ke dasar kepalaku mungkin ikan kecil yang kau
selamkan telah bersisip salju berenang
mengunyah purnama di setiap kota
“Aina….?”
kilau bohlam pada bulubulu kucing yang tidur nyenyak
membuat dusun lain
menyuruhku hijrah dengan pagi yang lebih perawan
menundukkan lambai mawar
terambang teduh di mata pisau

2009

Selasa, 02 Februari 2010

Abd. Rahem Umar


Abd. Rahem Umar. Lahir di Sumenep – Madura. Alumni PP. Terate – Pandian Sumenep dan STKIP – PGRI Sumenep, Jurusan Pendidikan Matematika. Salah-satu Puisinya terkumpul dalam 142 Penyair Nusantara Menju Bulan (Arsyad Indradi) Kini aktif sebagai Pengurus Bidang Musik dan Teater LESBUMI Sumenep dan Pemembina Teater Becek SMKN I Sumenep


Hikayat Hangat Tubuhmu
Untuk Anakku Agung

Selamat datang di dunia, Anakku
Dunia para pendahulumu
Jangan menjerit karna kau merasa asing
Kelak kau juga pasti merasakan asin

Mulailah kau menerjang tangan Ibumu
Saat kau nikmati puting susu
Sepi matamu adalah isyarat bisu
Lantaran bumi ini tidak lagi biru

Mulailah menggaris tanganmu, Anakku
Dengan lengking tangis malam
Belajarlah berkedip
Dengan alis matamu yang sedikit

Sedebupun jangan diam.
Sumenep, 07012010


Parjuga

Angen ngalemba’ nonggal seppe e ate
Anteng barenteng asapo’ daun jate
Jembar-jumambar sokma laju ngarte
Marga babbar asareng tera’ bulan pote

Taronduk pekker aleng-leng e bumi Guste
Ce’ kaburuna adantos laggu’ are ngabubur
Cellep socana akadi bintang
Asre ropana potra rato
Parjuga gulina masamporna dhadha

Liya lites
Kembang kates
Bulan noccer

Sumenep, 11012010


Refleksi Hujan

Sepertinya matahari esok akan menggerhana di pelupuk mataku
Gelap berabad-abad sudah haripun begitu
Tak pernah paham
Tinggal catatan kecil yang robek melepuh
Dalam tong sampah dan bunyi sexaphone
Otakku terus berputar bersama gerhananya senja
Palem dan akasia yang tak sia-sia
Menyederhanakan cintaku
Cintaku yang sederhana
Menziarahi bunga rambosa bahkan kalimat-kalimat buram
Merekah di antara helai-helai rambutmu yang kepirangan

Pahamilah cintaku
Seperti kau memahami dirimu sendiri

Sumenep, 161205


Rindu

Kuntum mawar merekah pada tangkai malam
Selalu sajikan tawa yang tak bertuan
Ingin rasanya mendekap peluh penuh sungguh
Bunyi merayap dipertiga malam yang selalu kelam
Tarian rasa menyiput beringsut susut
Jadi lara
Lantaran rindu tiada tara

Gersik 06062010


Pengakuan

Lelah dalam bimbang
Aku runduk menyeka nafas panjang
Meludahi kabut dengan mabukku pada tarian ilalang
Sebelum hujan hinggap dikeningmu yang lapang

Ada kegetiran terbungkus ciut
Aku malu disuguhi senyum seperti maut
Membingkai harap dengan sebekas raut
Padahal inilah tenung hati yang beranjak kusut

Memujimu, aku seperti menghina diri
Kulit dan darah bagai terkebiri
Lantaran hentakan nispa memadah jari-jari
Seujung kukupun tak ada yang sendiri

Jika saja kampungku kota
Maka sunyi akan kucipta
Derai-derai indah dalam kerudung
Hatiku bisu terkepung mendung


Yang pertama kuingat
Aku bergantung pada kerudung putih berkeringat
Lalu sehelai senyum terasa hangat
Dan aku merasa nikmat

Hiduplah, kerasanlah, rebahlah
Meski hatiku kau telanjangi takkan lelah

Sumenep, 25062010

Ir Mas Kanjeng Kelana


Ir Mas Kanjeng Kelana

Alumni Pondok Pesantren Sumber Payung Sumenep Madura. Pernah bergiat di Sanggar Tirta Ganding sekaligus pendiri Sanggar Kelana P.P Sumber Payung, Sanggar Asap P.P Sumber Payung, Selain itu juga inten di komunitas FKMM (Forum Kebangkitan Masyarakat Madura) dan masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dicelah wkt kuliahnya ia juga aktif di sanggar Nuun Jogja
E-mail: Jun_Irmaskanjeng@yahoo.co.id
Domisili di Komunitas Teater Celurit Hastina 191 Gk.I Jogjakarta
Hp.. 081913647077

Puisinya antara lain :

JAUH, KU GAPAI MAKNAMU
Qaf, Ha, Ya, ‘Ain, Shot Mu
Tak pernah meredam adamku.
Jogjakarta 2009

ODE MALAM PENGANTIN
Malam ini adalah malam pengantinku
Seribu malaikat dan bidadari bersayap pelangi
Terbang menari menhiasi kamar kecilku
Sementara aku duduk di sebuah singgasana
"akulah pangeran muda" gumamku
"sebentar lagi gadis itu akan menjelma wangi kasturi" malaikat-malaikat itu berbisik.
Setelah pesta selesai
Aku berjalan menuju kamar pengantin
Ranjang melati, semua berlapis melati
Gerakku kaku mengharap gadis itu muncul di balik pintu
Keringat dingin merayapi dinding sepi
Empat jam berlalu
Gadis itu tak jua menemuiku
Hampir saja aku menjerit
ketika ranjang melati itu berubah karanda mati dan baunya masih menyimpan nyeri
"melati itu telah hilang" gumamku lagi
gadisku… gadisku… gadisku…
ah…. Ternyata gadisku hayalanku.
Jogjakarta, selasa malam, 24


NIKMAT HIDUP SANG PUJANGGA
Aku berlari mencari hutan
Aku menari mencari Tuhan
Bermimpi menari-nari
Berlari mencari mimpi
Berlayar dengan biduk kecil
Bercerita di atas gelombang
adalah nikmat para pujangga
yang memerah spekulasi di lautan ilusi dengan puisi
terlelap di atas duri adalah majasi.

Jogjakarta, 2007

Sabtu, 03 Oktober 2009

Zainul Muttaqien



Zainul Muttaqien Lahir di Dusun Garincang, Batang-Batang Laok, Batang-Batang Sumenep Madura 18 Nopember 1991, Beberapa bulan Pernah dipercaya menjadi Ketua Sanggar Andalas Ponpes Annuqayah Madura, sekarang telah hijrah ke Yogyakarta dan Aktif di Komunitas Matapena Yogyakarta
Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, sempat dimuat di beberapa Media; Majalah Kuntum (Jogjakarta,) Majalah Almadina(Surabaya) Radar Madura, Joglo Semar, dan beberapa Media Nasional atau Lokal lainnya.
Namanya juga sempat tercatat dalam Antologi puisi dan cerpen, Kaliopak Menari (Matapena: Jogjakarta, 2008) Wanita yang Membawa Kupu-Kupu (Dewan kesenian Sumenep,Mei 2008) ia akan pulang kampung nanti saat diakui sebagai Rajawali Penyair

Sajak-sajak: Zainul Muttaqien*
“ Tiga sajak kupersembahkan untuk kekasih hidup: Khatim Maulina 5 April 1991 Malaysia (Kerta Barat Dasuk Sumenep) “

Riwayat Sunyi Tubuhmu
-Khatim Maulina, Malaysia 5 April 1991

Semisal bir-bir yang mengalir di tubuhmu
Memanggil para pelayar menggelar kapal yang berangkat
Ke tubuhmu

Mulailah aku menenggelamkan gairah
Keningmu:
Sepi, para pelayar merapatkan malam
Dengan desah
Alismu:
Dahan,burung-burung singgah seusai perjalanan
Meneduh diri dari siang yang hasrat
Matamu:
Surga, mengabarkan malam yang di ranjang
Orang-orang akan bergumam pada matamu
Yang menderu rindu dari reruntuhan itu
Di matamu yang lepas belati nafsu
Hidungmu:
Gua payudan, melepas kisah potre koneng
Yang bening, sesinggah pertapa dari
Dentang riuh jalanan waktu
Pipimu:
Mengalir kata yang basah
Semalaman
Lehermu:
Dan selanjutnya langit akan runtuh
Melalui kisah khamer yang terus
Mengalir di tubuhmu di dadamu
Sampai waktu

Dan aku terus bermimpi
Dengan gelisah rindumu

Guluk-guluk, Annuqayah 08 Mei 2009

Surat Sore
-ketika kau sakit; Khatim Maulina 5 April 1991

Ada gerimis jatuh bertadabbur mengetuk dadaku
Dari mata, seusai surat sore

Kerumah kau pulang, aku menemukan jejak yang sakit
Mendinginkan gelisah pada hasrat-hasrat

Duh, engkau kekasihku

Madura 02 Agustus 2008



Hajar Aswad di Dadamu
-khatim Maulina,Malaysia 5 April 1991

Pada dua belah belantara gunung didadamu
Serupa hajar aswad mengabarkan aroma
Menggelisahi orang-orang berhaji
Yang berangkat ke surau sembahyang

Dan aku berlayar dalam sendiri hasrat sepi
Berangkat dengan perahu di mataku
Laut mengombak menyalami malam yang diranjang
Pada panorama asmara, di dermaga pelayaran
Hujan runtuh dalam gerimis mengair nikmat

Melahirkan usia pagi bocah-bocah dalam erangan helai
Sekedar kisah
Dari hempasan arah aroma hajar aswad di dadamu
Menyimpan semerbak khamer
Memabukkan pujangga-pujangga rindu di matamu

Lalu tersesat

Guluk-guluk, Annuqayah 29 Oktober 2009

Minggu, 18 Januari 2009

Oei K Lendi





Penulis tinggal di Pulau Garam madura. Mantan aktivis Sanggar Andalas dan Sanggar Kapas yang karyanya dimuat di situs sastra nasional kantongsastra.net. Antologinya yang pernah terbit, Bangkit (Sanggar Kapas 1998). Tertarik menulis sejak di bangku SMA.
kini hidup sebagai petani di desanya sambil belajar secara otodidak. "Bagi saya menulis adalah tempat bereksperesi yang paling aman tanpa takut ditindak oleh siapa pun". Alamat: JL. Pesantren Pandian Sumenep. Kontak email: lemarinaskah@gmail.com


REPLIKA


aku replika di kekar genggamanmu yang mencengkeram
hidup dengan anggota badan kaku mengecap rindu buntu. tersudut
diawetkan selera yang nyaris kehilangan romantisme dan kelembutan
menekan menghimpit, malah kerap menerkam-nerkam tuntaskan
kejutan-kejutan tak dinginkan. meratakan sekian ekosistem
berdasarkan asumsi dosa seolah tak patut diampunkan

dan aku memang replika. ditaruh menghuni wilayah,
di mana segala; lahan subur yang terbebaskan, rumah bagus
yang rapi terurus, langit biru bercorak cerah, hamparan hijau tanaman
yang terjaga, semua berupa replika, terbungkus kotak kristal,
direkatkan alotnya serangkai rencana petualang, yang mengelana
membagi-bagikan kata berbusa. membuncah. bahkan

pencahayaan, juga sirkulasi udaranya adalah imitasi buatan
kerap tersendat. ngadat. redup pengap yang sesungguhnya menyergap



GAMBAR
: buat arsyad indradi


ada gambar. roman mukanya biasa
tak tersenyum tak mengkerut. menatap
tanpa dendam tanpa luka. hanya berwarta,
kalau ia asing mengenali isi jiwa di dekatnya
hal yang tak pernah merasa ia miliki, yaitu
sekumpulan diksi berbeda yang tertera,
bukan yang pernah ia peluki dan cintai



SESEORANG DI GAPURA


lelaki itu bediri di gapura. tak jelas tengah menunggu
atau sedang menikmati sesuatu. terlihat bibirnya bergerak-gerak
seperti sibuk membaca, mengeja kalimat penuh rona lega
dibauri gelegak suka cita

alhasil, seseorang muncul dari arah lain. melambai
memanggil dengan vibra suara berkharisma. acungkan sketsa:
"oei...'

lelaki itu ragu antara menyahut atau bungkam
seribu bahasa membiarkan sangsi terus bernyanyi-nyanyi
sebab yang disodorkan pemanggil adalah raut keasingan
meski terasa pula dia yang dipanggil

di gapura,
akankah matahari bedaya
menjabar serta meluruskan prasangka?
entah





LANGKAH

langkah-langkah tersuruk kabut. menapak
rute-rute peta yang samar. remuk. menyandang
kutuk tengah dibentuk--kebutaan mengamuk,
menyusun ambruk demi ambruk menumpuk;
petaka memang sedang menggila!

telah kami sahuti seruan khotbah. anehnya,
jalan-jalan seperti garis pengantar tak jelas;
sepi tak mati meski sekian tahun diperangi
anyir-amis mengendap menyegat dalam hiruk
sadis terselubung yang rutin menciptakan

balon warna-warni pada tiap ulang tahun
dijulurkan tangan badut-badut penghibur
dengan senyum santun. dibarengi kata-kata manis
tingkah-tingkah menggelikan. akrobat-karobat
hebat menggiring penonton lena melupakan

laut yang dicemari. udara yang ditaburi polusi
hutan yang diberangus. serta sawah menghampar
yang diperah tak bernaga ketika pasar menjerit
gusar disabet pisau pemotong daging para tukang jagal
rasanya lam sudah kami, jauh berjalan

mengubur masa lalu. meretas kelabu. namun
bau dupa terus merebak kentalkan salam maut
hingga tak terpahami lagi,

kaki-kaki kami melangkah atau terperosok
jebakan yang teramat lembut untuk disebut
dusta dan kekejian


DARI HUTAN HINGGA KE TANJUNG

dari hutan hingga ke tanjung
hijau dan biru bukan isyarat damai dan aman. tahu-tahu
sebuah niat angin terencana. turun dari puncak bukit, torehkan jejak
tamak di semak-semak. tersingkap betapa busuk aroma
karena yang tumbuh bukanlah anggrek dan mawar, melainkan setangkai besar
bunga bangkai membingkai di balik rimbun daun yang anggun

dari hutan hingga ke tanjung
seruak berita adalah tambahan melekul kecewa,
pun begitu dari layar-layar hingga ke balik gedung-gedung,
berita yang sama bersahutan bersambungan berdengungan
membumbung menguap jelmakan pekat mendung mengurung

dari hutan hingga ke tanjung
cemar jiwanya tak terterka. seperti arah nasib yang meraba-raba
di area niscaya. meluka bersimbah ditetes getah-getah jadah

dari hutan hingga ke tanjung
hingga ke bilik-bilik gedung, rapal mantera aji mumpung
hikmat berlangsung


GELISAH
--buat ayu oon

gelisah berdebur seriuh bunyi ombak tanah kelahiran
kau miris menjamah sepi penunggu ruang tamu. dijangkau
bisikan waktu terus meninggi, sampaikan pesan: sketsa senja
tertanam di tubuhnya--o, alngkah ngeri bila dinikmati sendiri!
kecamukmu mungkin serupa doa-doa para nelayan yang dijauhi
ikan dalam sampan. biar berkali sauh dilempar yang terjaring
semata asin lautan, seolah menampik jejak sumringah kala turun
menjejak pasir pantai. lumrah jika rasa meresah. sebab cinta
tak pernah terbuka menuliskan catatan apa sebelumnya
dan sedang kereta masih tak tertangkap bersirine
bergerak dalam Pengasih rahasiaNya
melingkup semua
menuju segala
mengucur
berlaksa
senantiasa.



HITAM

hitam membisa. kanker di putih yang lalu basi
bersimbah nila. ternoda. dinodai. teriakan-teriakan suci,
puih!, itu bukan pengobat perih. juga macam kuman-kuman
gentayangan dalam hitam yang menghitam. buas menyekam
berbungkus sakral. memangsa. menyantap. menghabiskan
selaksa kesempatan, persetan hak-hak dan kepemilikan
lantaran persengketaan yang lahir lewat pemanjaan rangka aturan
selalu jitu gapai pemenangan yang diamini ketukan-ketukan
keabsahan. intinya, ialah hasrat dasyat yang berliaran menginginkan
menikam dada diri dalam-dalam sampai nyatu dengan kelam

dan terpampang selaksa bersatu padu kokoh
kentalkan hitam. maka hitam pun makin menghitam
makin menyuram makin mengkelam makin merunyam. melegam
hitam hitam hitam... kiblat disebut-sebut mulut di hati luput,
hilang hilang hilang... terang hilang, hitam menang berkembang